KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya pemerintah menegosiasikan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan pelaku industri padat karya, khususnya sektor alas kaki. Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menilai hasil negosiasi sejauh ini masih menyisakan persoalan besar bagi keberlanjutan industri yang menyerap hampir satu juta tenaga kerja tersebut. Direktur Eksekutif APRISINDO, Yoseph Billie Dosiwoda menyatakan, dukungannya terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam menekan tarif masuk produk Indonesia ke pasar AS. “Namun, seharusnya tarif resiprokal untuk industri alas kaki semestinya ditekan hingga 0% atau setidaknya jauh lebih rendah dari tarif saat ini yang mencapai 19%,” katanya dalam siaran pers, Sabtu (3/1). Masalahnya, berdasarkan informasi yang diterima APRISINDO, skema perjanjian tarif resiprokal Indonesia dan AS yang hampir rampung justru hanya memberikan tarif 0% untuk komoditas berbasis sumber daya alam tropis. Sementara itu, sektor manufaktur padat karya seperti alas kaki tetap dikenakan tarif tinggi.
Tarif AS Ancam Industri Alas Kaki, APRISINDO Minta Kelonggaran 0%
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya pemerintah menegosiasikan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan pelaku industri padat karya, khususnya sektor alas kaki. Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menilai hasil negosiasi sejauh ini masih menyisakan persoalan besar bagi keberlanjutan industri yang menyerap hampir satu juta tenaga kerja tersebut. Direktur Eksekutif APRISINDO, Yoseph Billie Dosiwoda menyatakan, dukungannya terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam menekan tarif masuk produk Indonesia ke pasar AS. “Namun, seharusnya tarif resiprokal untuk industri alas kaki semestinya ditekan hingga 0% atau setidaknya jauh lebih rendah dari tarif saat ini yang mencapai 19%,” katanya dalam siaran pers, Sabtu (3/1). Masalahnya, berdasarkan informasi yang diterima APRISINDO, skema perjanjian tarif resiprokal Indonesia dan AS yang hampir rampung justru hanya memberikan tarif 0% untuk komoditas berbasis sumber daya alam tropis. Sementara itu, sektor manufaktur padat karya seperti alas kaki tetap dikenakan tarif tinggi.
TAG: