KONTAN.CO.ID - BOGOTA. Jutaan mawar asal Kolombia tiba di Amerika Serikat tepat menjelang Hari Valentine. Namun, di balik lonjakan permintaan musiman itu, tantangan ekonomi yang kian berat mengancam “kelopak” romantisme dari negara pengekspor bunga terbesar kedua di dunia tersebut. Kolombia, yang hanya kalah dari Belanda dalam ekspor bunga global, mengirim sekitar 65.000 ton bunga potong segar ke pasar internasional pada periode 15 Januari hingga 9 Februari. Musim Valentine sendiri biasanya menyumbang sekitar 20% dari total penjualan tahunan industri ini, yang menjadi pemasok utama bunga bagi pasar Amerika Serikat, menurut asosiasi industri Asocolflores.
Akan tetapi, hiruk-pikuk permintaan jelang Valentine kali ini dibayangi oleh kebijakan tarif impor 10% yang diberlakukan Amerika Serikat sejak April lalu sebagai bagian dari langkah perdagangan yang lebih luas di era Presiden Donald Trump. Padahal, sekitar 80% ekspor bunga Kolombia ditujukan ke pasar AS.
Baca Juga: Bangladesh Amankan Tarif AS Turun Jadi 19%, Produk Garmen Berbahan AS Bebas Bea Masuk Tidak hanya itu, para petani bunga juga menghadapi tekanan dari penguatan nilai tukar peso Kolombia yang naik hampir 12% terhadap dolar AS dalam setahun terakhir, serta kenaikan upah minimum sebesar 23%. Kombinasi faktor ini secara signifikan menggerus daya saing ekspor dan menekan margin keuntungan produsen. “Kami berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan dan sangat rumit,” ujar Jose Antonio Restrepo, manajer Ayure SAS Eclipse Flowers di dekat Bogota. Ia memperingatkan bahwa tanpa perubahan kondisi ekonomi, industri bunga Kolombia berisiko menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan kebun pada Juli mendatang.
Sektor Padat Karya Terancam
Budidaya bunga merupakan sektor pertanian paling padat karya di Kolombia, menyediakan lapangan kerja formal bagi sekitar 240.000 pekerja di lahan seluas 10.500 hektare. Industri ini tidak hanya berperan dalam ekspor nonmigas, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi bagi ribuan keluarga di pedesaan. Tantangan lain yang tak biasa tahun ini adalah Hari Valentine yang jatuh pada hari Sabtu. Kondisi ini dinilai kurang menguntungkan dari sisi penjualan.
Baca Juga: BYD Ajukan Gugatan atas Tarif AS, Minta Pengembalian Pungutan Sejak 2025 “Lebih baik jika Hari Valentine jatuh pada hari kerja, karena orang-orang sudah terbiasa mengirim bunga ke kantor sebagai kejutan,” jelas Presiden Asocolflores, Augusto Solano.
Semangat Pekerja Tetap Menyala
Meski bayang-bayang tekanan ekonomi menghantui, suasana di lantai pengepakan Ayure SAS Eclipse Flowers tetap terasa hangat. Susana Vega, seorang pekerja yang tengah membungkus mawar, mengaku momen Valentine masih menghadirkan rasa bangga tersendiri.
“Ini adalah kebahagiaan yang luar biasa (...), mengetahui bahwa kami membawa kebahagiaan bagi seseorang,” kata Vega. “Bagi seorang perempuan, bagi seorang ibu, dan bahwa kami juga mendapatkan manfaat untuk diri kami sendiri.” Di tengah tekanan tarif, kurs, dan biaya tenaga kerja, industri mawar Kolombia kini berada di persimpangan penting. Musim Valentine mungkin tetap menghadirkan lonjakan permintaan, tetapi masa depan sektor ini sangat bergantung pada perubahan kondisi ekonomi dan kebijakan perdagangan yang lebih bersahabat.