KONTAN.CO.ID - LONDON. Kebijakan tarif Amerika Serikat memang mengubah arah perdagangan global, tetapi dampaknya terhadap volume perdagangan tidak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya. Kondisi ini justru mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan di sejumlah negara berkembang, menurut laporan terbaru dari European Bank for Reconstruction and Development (EBRD), Kamis (26/2). Lembaga pembiayaan pembangunan tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi di 40 negara yang berada dalam cakupannya mencapai 3,4% — lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
Baca Juga: Trump Singgung Serangan ke Iran, Ini Fakta Terbaru Program Senjata Teheran Meski demikian, EBRD memperingatkan bahwa gejolak perdagangan yang berkelanjutan masih berpotensi menghambat pertumbuhan di beberapa negara. Kepala Ekonom EBRD, Beata Javorcik, mengatakan kepada Reuters bahwa prospek ekonomi saat ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya. Gambaran saat ini sedikit lebih optimistis dibandingkan musim gugur lalu... dan kami memperkirakan tahun ini serta tahun depan akan lebih baik dari tahun lalu," ujarnya.
Inflasi Melambat dan Infrastruktur Dorong Pertumbuhan
EBRD mencatat bahwa perlambatan inflasi serta peningkatan belanja proyek infrastruktur — terutama di kawasan Eropa — menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan. Selain itu, dampak kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan Presiden AS Donald Trump ternyata tidak seburuk yang diperkirakan sebelumnya. EBRD kini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan akan mencapai:
- 3,6% pada tahun ini
- 3,7% pada 2027
Kedua angka tersebut merupakan revisi naik sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan proyeksi musim gugur lalu.
Baca Juga: Trump Singgung Opsi Serangan ke Iran: Seberapa Dekat Teheran ke Senjata Nuklir? Efek Pergeseran Perdagangan Global
Menariknya, ekspor dari sejumlah negara anggota EBRD ke Amerika Serikat justru meningkat, terutama pada sektor yang berkaitan dengan booming teknologi kecerdasan buatan (AI). Negara-negara seperti Hungaria, Republik Ceko, dan Polandia diuntungkan dari pergeseran rantai pasok global dengan mengekspor produk terkait AI, seperti:
- Server
- Prosesor
- Sistem komputasi
Produk-produk tersebut menggantikan sebagian ekspor serupa dari China ke pasar AS. Namun demikian, Javorcik menegaskan bahwa dampak penuh tarif perdagangan masih belum sepenuhnya terlihat. Sebagian besar perdagangan yang dianalisis dalam laporan ini terjadi sebelum tarif “Liberation Day” diberlakukan pada April 2025. Situasi semakin kompleks setelah putusan U.S. Supreme Court yang menyatakan bahwa Trump telah melampaui kewenangannya dalam penerapan tarif awal.
Risiko Ketidakpastian dan Tekanan Fiskal
Menurut Javorcik, turbulensi global membuat para pembuat kebijakan harus terus fokus pada krisis jangka pendek. "Turbulensi ini memaksa pembuat kebijakan fokus pada urgensi dan guncangan yang datang — mingguan bahkan harian." Kondisi tersebut berisiko mengalihkan perhatian dari masalah struktural jangka panjang, seperti:
- Tantangan demografi
- Ancaman terhadap standar hidup
- Stabilitas fiskal
Ia juga menyoroti bahwa “mode darurat” akibat perang di Ukraina dan peningkatan belanja pertahanan dapat menguras anggaran pemerintah yang seharusnya dialokasikan untuk prioritas pembangunan lainnya.
Baca Juga: Trump Beberkan Alasan Kemungkinan Serangan Terhadap Iran dalam Pidato Kenegaraannya Dampak akhirnya akan sangat bergantung pada bagaimana dana tersebut digunakan — apakah untuk pembelian alat pertahanan jangka pendek atau untuk investasi produktif seperti:
- Infrastruktur jalan
- Rumah sakit
- Proyek ekonomi strategis lainnya
Investasi Publik Jadi Kunci
Menghadapi berbagai krisis global yang saling berkelindan, EBRD menekankan pentingnya memastikan investasi publik difokuskan pada proyek-proyek yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Javorcik menegaskan bahwa ketidakpastian global kemungkinan akan terus berlanjut dan berpotensi menghambat investasi swasta. "Ketidakpastian global kemungkinan akan tetap ada dan menjadi faktor penghambat investasi swasta. Karena itu, peran investasi publik menjadi semakin penting."