KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mendorong pengembangan produk keuangan syariah yang lebih bervariasi untuk menangkap besarnya permintaan investor asing dari pasar global. Menurut Destry, instrumen keuangan syariah seperti sukuk memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena diminati investor dari berbagai negara, termasuk negara-negara non muslim seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Hal ini tercermin dari penerbitan Green Sukuk Indonesia yang telah dilakukan pemerintah sejak 2018. Hingga saat ini, nilai penerbitan Green Sukuk Indonesia telah mencapai US$ 7,7 miliar.
Selain itu, pemerintah juga secara rutin menerbitkan sukuk global untuk memperluas akses ke pasar keuangan internasional.
Baca Juga: BI Prediksi Penjualan Eceran Terkontraksi 2,3% pada September 2026, Ini Pemicunya "Bahwa yang beli itu (Sukuk) adalah banyak negara-negara di luar negara Muslim. Jadi Amerika, Eropa. Kenapa? Karena mereka melihat produk ini produk yang
sustainable," ujar Destry dalam agenda Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di JCC Senayan Jakarta, Rabu (14/10/2026) Ia menilai, minat investor global terhadap sukuk menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas pengembangan instrumen keuangan syariah. Terlebih, produk keuangan syariah relatif stabil karena memiliki aset dasar atau
underlying asset. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu daya tarik keuangan syariah di tengah pergeseran minat investor terhadap instrumen investasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, Destry mengajak para pemangku kepentingan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Syariah Nasional (DSN), untuk bersama-sama merumuskan dan menciptakan produk keuangan syariah yang lebih beragam. "Saya mengajak kepada para tokoh-tokoh di sini, ada Bapak-Bapak semua, MUI, DSN, mari kita bersama-sama merumuskan agar kita bisa menciptakan produk-produk keuangan syariah yang lebih bervariasi, karena sebenarnya
demand-nya itu
strong sekali, permintaannya sangat banyak sekali," katanya.
Baca Juga: Alasan BI Tak Kerek Suku Bunga: Kenaikan BI Rate 0,25% Bisa Tekan Ekonomi 0,1% Lebih lanjut, Destry menyampaikan, potensi pengembangan keuangan syariah juga terlihat di pasar domestik. Nilai penerbitan Green Sukuk Indonesia di pasar domestik telah mencapai Rp 108,9 triliun, masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total obligasi yang diterbitkan pemerintah.
Menurutnya peluang untuk memperbesar pasar sukuk domestik masih terbuka lebar. Untuk itu Destry mendorong pengembangan variasi produk keuangan syariah untuk mengoptimalkan potensi permintaan tersebut. Dengan semakin beragamnya instrumen yang tersedia, pasar keuangan syariah diharapkan dapat menjangkau lebih banyak investor, baik di dalam maupun luar negeri.
Baca Juga: BI Dorong BPS Terbitkan PDB Syariah, Kontribusi Halal Value Chain 24,9% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News