Taruhan Trump di Venezuela: Risiko Geopolitik vs Harapan Pasokan Minyak



KONTAN.CO.ID - Investor global menghadapi lonjakan baru risiko geopolitik setelah Amerika Serikat (AS0 menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sebuah langkah berani Presiden Donald Trump yang berpotensi membuka akses ke cadangan minyak besar Venezuela dalam jangka panjang, namun dalam waktu dekat justru menekan sentimen pasar.

Reaksi pasar sejauh ini relatif terbatas. Saham global cenderung menguat, harga minyak bergerak volatil, sementara emas mendapat dorongan sebagai aset lindung nilai. Pelaku pasar tampak belum sepenuhnya bereaksi terhadap dampak geopolitik Venezuela.

Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengambil alih kendali negara penghasil minyak tersebut.


Baca Juga: Bursa Jepang Dibuka Menguat Senin (5/1), Nikkei Naik Lebih dari 2%

Maduro, yang selama ini dituding Washington menjalankan “negara narkotika” dan memanipulasi pemilu, dilaporkan ditahan di New York untuk menghadapi proses hukum.

Langkah ini menjadi intervensi langsung AS di Amerika Latin yang paling signifikan sejak invasi Panama pada 1989.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketegangan geopolitik masih mendominasi berita utama dan menggerakkan pasar,” kata ekonom Marchel Alexandrovich dari Saltmarsh Economics, Minggu (4/1/2026).

Menurutnya, pasar kini harus menghadapi risiko berbasis berita yang jauh lebih besar dibanding era pemerintahan AS sebelumnya.

Baca Juga: Trump Ancam Operasi Militer ke Kolombia Usai Tangkap Presiden Venezuela

Pasar Awali 2026 dengan Optimisme

Futures saham AS dan bursa Asia menguat pada perdagangan awal Senin (5/1/2026), sementara harga emas melonjak lebih dari 1% setelah sempat tertekan pekan lalu.

Pasar global membuka perdagangan pertama tahun 2026 dengan nada positif, seiring indeks Wall Street ditutup menguat dan dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama pada Jumat.

Saham global mengakhiri 2025 di dekat level tertinggi sepanjang masa, ditopang kenaikan dua digit di tengah tahun yang diwarnai perang tarif, kebijakan bank sentral, dan ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Para Pemimpin Dunia Desak PBB Turun Tangan Usai Penangkapan Maduro

Harga emas melonjak ke rekor tertinggi tahun lalu, mencatat kenaikan terbesar dalam 46 tahun terakhir. Emas terakhir diperdagangkan di kisaran US$4.400 per ons, didorong pemangkasan suku bunga AS dan konflik geopolitik.

Dalam konferensi pers, Trump mengatakan AS akan “menjalankan negara tersebut hingga tercipta transisi yang aman dan tepat”, meski tanpa merinci mekanismenya. Ia juga tidak menutup kemungkinan pengerahan militer AS.

Langkah ini kembali menyoroti krisis utang Venezuela, salah satu kasus gagal bayar negara terbesar di dunia yang belum terselesaikan.

Minyak Venezuela Tak Bisa Pulih Instan

Tak lama setelah penangkapan Maduro, Trump menyebut perusahaan minyak AS siap menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk memulihkan produksi minyak Venezuela.

Jika terwujud, tambahan pasokan tersebut berpotensi menekan harga energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi global.

Harga minyak sempat menembus US$62 per barel pada Desember, setelah AS memblokir kapal tanker yang terkena sanksi.

Baca Juga: Bursa Australia Datar Senin (5/1) Pagi, Kenaikan Tambang Tertahan Tekanan Teknologi

Namun, sejak itu harga relatif stabil di kisaran US$60–61 per barel. Kontrak Brent naik tipis ke US$60,89 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$57,43 per barel.

“Dari sudut pandang investasi, ini berpotensi membuka cadangan minyak dalam jumlah sangat besar dalam jangka panjang,” kata Brian Jacobsen, kepala strategi ekonomi Annex Wealth Management.

Menurutnya, pasar sering kali bersikap risk-off menjelang konflik, tetapi cepat beralih ke risk-on setelah konflik benar-benar terjadi.

Namun, banyak analis menilai peningkatan produksi minyak Venezuela akan memakan waktu bertahun-tahun.

Produksi telah merosot tajam akibat salah kelola, minimnya investasi, serta nasionalisasi industri minyak sejak 2000-an.

Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela.

Investor juga harus mempertimbangkan risiko keamanan, infrastruktur yang rusak, legalitas operasi AS, serta potensi ketidakstabilan politik jangka panjang.

Baca Juga: Efek Domino Larangan Trump: Negara-Negara Afrika Tutup Pintu Total bagi Warga AS

Perlu Stabilitas Politik dan Investasi Besar

Stephen Dover, kepala strategi pasar Franklin Templeton, menilai langkah sepihak AS menunjukkan kesediaan menggunakan kekuatan, yang bisa mendorong negara-negara lain meningkatkan belanja pertahanan.

Ia juga menilai hal ini menambah ketidakpastian terhadap peran dolar AS sebagai aset aman.

Dalam jangka panjang, Venezuela yang stabil dan produktif dapat menjadi sumber pasokan minyak penting bagi dunia.

“Namun, potensi itu hanya bisa terwujud dengan stabilitas politik dan investasi yang sangat besar,” ujarnya.

Selanjutnya: Restrukturisasi Sebatas Demi Bertahan Hidup, Ini Tantangan Danantara di WSKT & KAEF

Menarik Dibaca: IHSG Diproyeksi Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Senin (5/1)