TBIG Optimistis Bisnis Menara Telekomunikasi Kembali Tumbuh pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten menara, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), optimistis bisnis menara telekomunikasi akan kembali bertumbuh pada 2026 setelah dampak konsolidasi operator yang terjadi sepanjang 2025 mulai mereda.

Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi menyatakan bahwa dampak terbesar merger operator telekomunikasi telah terjadi pada tahun lalu, terutama setelah penggabungan Smartfren dan XL yang membentuk XLSmart.

Proses konsolidasi tersebut memang menyebabkan sejumlah menara yang berdekatan dibongkar sepanjang 2025. Meski demikian, perusahaan mengaku tetap mencatat pembangunan menara baru pada periode yang sama.


"Kami sudah melewati tahun 2025 dengan jumlah dismantle yang cukup signifikan. Namun pada saat yang sama terdapat pembangunan tower baru. Jika melihat presentasi sebelumnya, memang terdapat pengurangan tenancy pada 2025, tetapi pembangunan tower baru justru meningkat," ujarnya dalam Agenda Paparan Publik, Selasa (9/6/2026).

Baca Juga: Industri Nikel Sambut Positif Pembatalan Penerapan Gross Split untuk Minerba

Maka dari itu, perseroan meyakini dampak konsolidasi mulai berkurang pada tahun ini dan permintaan dari operator akan kembali meningkat.

Meski tidak menyebutkan secara detail, Herman cukup optimistis akan ada pertumbuhan positif pada 2026, baik dari jumlah tenancy maupun menara.

Selain pulihnya permintaan pascakonsolidasi operator, TBIG juga melihat peluang pertumbuhan dari pengembangan layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan implementasi jaringan 5G di Indonesia. Menurut dia, pengembangan layanan FWA berpotensi meningkatkan kebutuhan kolokasi pada menara telekomunikasi.

"Kita mengetahui bahwa FWA sudah berkembang sejak tahun lalu. Salah satu pemain utama adalah Surge (WIFI) dan juga MyRepublic yang telah memperoleh spektrum 1.400 MHz. Kedua pemain ini berpotensi melakukan rollout internet berbasis Fixed Wireless Access," kata Herman.

Selain itu, implementasi 5G juga dinilai menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri menara, sehingga diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap laju bisnis perusahaan ke depan.

 
TBIG Chart by TradingView

Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, TBIG meraup pendapatan sebesar Rp 1,71 triliun. Ini turun tipis sekitar 0,79% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 1,73 triliun.

Dari sisi bottom line, laba periode berjalan TBIG mencapai Rp 405,61 miliar pada kuartal I-2026. Raihan tersebut menyusut 5,61% YoY dari posisi kuartal I-2025 yang mencapai Rp 429,23 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News