TBS Energi (TOBA) Jadi Saham Hijau Transisi Pertama yang Diterbitkan BEI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh Penetapan Saham Hijau Transisi (Green Equity Transition) dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Asal tahu saja, kategori ini diberikan kepada perusahaan tercatat yang bisnisnya secara terukur bergerak menuju ekonomi rendah karbon, dengan menilai pendapatan dan alokasi investasi perusahaan pada kegiatan hijau yang telah dikomitmenkan.

Penetapan tersebut berlaku efektif sejak 28 Agustus 2026, yakni saat  peluncuran perdana IDX Green Equity Designation yang melibatkan tiga perusahaan tercatat. TBS pun menjadi satu-satunya perusahaan yang ditetapkan pada kategori transisi.


"Bagi kami, penetapan ini bukanlah garis akhir, melainkan satu tonggak lagi dalam transformasi yang masih kami jalani. Kami mengapresiasi inisiatif BEI menghadirkan penetapan ini, yang memberi investor gambaran terukur dan telah di reviuw secara independen mengenai sejauh mana bisnis kami sudah bertransisi. Penetapan ini menetapkan standar yang harus kami jaga setiap tahun, dan kami berharap penetapan ini mempertemukan kami dengan investor yang memang mencari perusahaan seperti kami,” kata Direktur Utama dan Chief Executive Officer TOBA Dicky Yordan dalam rilis yang diterima KONTAN, Senin (7/9/2026).

Baca Juga: IHSG Dibuka Turun ke 6.626, Top Losers LQ45: HRTA, EMTK, INDY, Senin (7/9)

Kerangka penetapan bertumpu pada lima pilar yang diadaptasi dari Green Equity Principles milik World Federation of Exchanges (WFE), yaitu kontribusi finansial, keselarasan taksonomi, tata kelola, penilaian berkala, dan keterbukaan informasi kepada publik.

TOBA harus menunjukkan bahwa lebih dari separuh pendapatan tahunannya, atau lebih dari separuh belanja operasional dan belanja modalnya, berada pada kegiatan hijau atau transisi sebagaimana didefinisikan dalam TKBI. Setiap penetapan dievaluasi setiap tahun oleh penyedia reviuw eksternal yang diakui, dan BEI dapat mengubah atau mencabutnya.

 Penetapan ini dinilai berdasarkan laporan keuangan tahunan TOBA yang telah diaudit untuk tahun buku 2025 (full year 2025), ketika bisnis infrastruktur berkelanjutan (non-batubara) masih menyumbang 47% dari pendapatan konsolidasi. Bauran pendapatan inilah yang menempatkan TBS pada kategori transisi.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Usaha BEI Iding Pardi mengatakan, IDX Green Equity Designation merupakan milestone penting dalam membangun pasar modal Indonesia yang semakin transparan, kredibel, dan berorientasi pada keberlanjutan.

“Kami mengapresiasi partisipasi perusahaan-perusahaan yang memperoleh penetapan perdana ini, termasuk TBS, serta komitmen mereka untuk menjalani proses reviu independen sejak awal. Kami berharap penetapan ini mendorong semakin banyak Perusahaan Tercatat untuk memperkuat praktik keberlanjutannya dan memberikan informasi yang lebih kredibel bagi investor,” jelas Iding.

Baca Juga: Utang Jangka Pendek Terpangkas 30,9%, Intip Prospek Saham TBS Energi Utama (TOBA)

TOBA, yang di reviuw oleh S&P Global Ratings, yang menilai 92% komitmen belanja modal perusahaan untuk periode 2025 hingga 2030 sebagai kegiatan hijau, tanpa alokasi untuk batubara, jauh di atas ambang batas yang disyaratkan BEI.

Dalam Climate Transition Assessment, S&P Global Ratings menyatakan, TOBA menonjol di antara perusahaan sejenis di Indonesia karena ambisi posisinya, dengan menyebut target waktu tercepat untuk mencapai netralitas karbon pada 2030 dan pengalihan modal ke kegiatan non-batubara.

Meskipun bisnis infrastruktur berkelanjutan menyumbang kurang dari separuh pendapatan konsolidasi pada tahun buku 2025, porsinya melonjak pada semester I-2026 menjadi 66,5% dari pendapatan konsolidasi TOBA, lebih dari dua kali lipat kontribusi batubara yang sebesar 31,4%. Hal itu membalikkan bauran yang setahun sebelumnya masih didominasi batubara.

Pengelolaan limbah TOBA menyumbang 61,2% pendapatan dan 92% EBITDA konsolidasi. Pendapatan dari ekosistem kendaraan listrik juga naik hampir tiga kali lipat secara tahunan.

Alhasil, TOBA catat kinerja moncer di sepanjang enam bulan pertama 2026. Di mana, laba kotor konsolidasi TOBA melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 28,2 juta.

Setali tiga uang, arus kas operasi TOBA berbalik positif menjadi US$ 14,6 juta di semester I-2026. Sekedar mengingatkan, arus kas operasional perusahaan sebelumnya negatif US$ 31,6 juta pada semester I-2025.

 
TOBA Chart by TradingView

Asal tahu saja, penetapan saham berbasis hijau masih merupakan praktik yang terus berkembang di tingkat global. Nasdaq memperkenalkan penetapan pertama dari jenis ini di pasar Nordik pada 2021.

WFE menerbitkan Green Equity Principles pada 2023 sebagai kerangka global pertama untuk menetapkan saham tercatat sebagai saham hijau, dan sejak itu diadopsi oleh sejumlah bursa: B3 di Brasil pada 2024, kemudian Bursa Efek Filipina, dan kini BEI.

Saat ini kurang dari 20 perusahaan tercatat di dunia yang memiliki penetapan tersebut, terkonsentrasi pada sektor teknologi bersih, utilitas, dan properti, sehingga menempatkan TBS dalam kelompok kecil secara global.

BEI menegaskan bahwa IDX Green Equity Designation bukan merupakan pemeringkatan, rekomendasi investasi, maupun jaminan atas kinerja keuangan, tingkat pengembalian, atau risiko investasi suatu saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News