KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri startup Indonesia belum sepenuhnya keluar dari fase
tech winter. Kondisi tersebut diperkirakan masih membayangi pendanaan startup hingga akhir 2026, seiring tingginya biaya dana dan perubahan model bisnis digital yang berlangsung cepat. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai investor, khususnya
venture capital (VC), masih akan bersikap selektif dalam menyalurkan pendanaan kepada perusahaan rintisan. “Saya masih melihat bahwa masa
tech winter itu masih terjadi hingga sekarang,” ujar Nailul kepada Kontan, Jumat (28/8/2026). Menurut dia, salah satu faktor yang membuat pendanaan startup belum kembali agresif adalah masih tingginya
cost of fund untuk investasi digital. Kondisi tersebut berkaitan dengan tingkat suku bunga bank sentral negara-negara besar yang masih relatif tinggi. Baca Juga: UMKM Mamin Wajib Kantongi Sertifikat Halal Oktober 2026, GAPMMI Soroti Tantangan Ini Di sisi lain, pesatnya perkembangan teknologi digital membuat model bisnis startup cepat berubah. Model bisnis yang saat ini digunakan sebuah startup belum tentu mampu bertahan dalam jangka panjang karena berpotensi tergantikan oleh model bisnis baru. “Artinya, secara pendanaan, risikonya akan cukup besar jika model bisnis yang digunakan oleh startup mengalami kegagalan. Tanpa ada inovasi, saya rasa sulit melihat sebuah startup digital berkembang,” jelasnya. Nailul menilai perubahan tersebut membuat VC tidak lagi sekadar melihat besarnya pertumbuhan pengguna maupun volume transaksi. Investor kini akan semakin memperhatikan jalur perusahaan menuju profitabilitas. Menurutnya, VC ke depan akan meminta startup memiliki
pathway yang jelas untuk menghasilkan keuntungan. Bahkan, startup diperkirakan dituntut sudah mampu mencetak laba dalam lima tahun setelah memperoleh suntikan modal. Baca Juga: CBN Jadi Mitra ISP Pertama Wasabi Technologies di Indonesia “Tak lagi bisa startup ini rugi terus hanya mengandalkan volume transaksi saja,” tegas Nailul.
Tata kelola diperketat
Kasus seperti eFishery turut menjadi pelajaran bagi investor untuk memperketat proses uji tuntas sebelum menanamkan modal. Namun, Nailul menilai perhatian investor tidak hanya tertuju pada aspek hukum, tetapi juga kualitas model bisnis serta tata kelola perusahaan. Peran VC pun diperkirakan semakin aktif setelah investasi dikucurkan. Investor tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia modal, tetapi turut terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan manajerial perusahaan. Keterlibatan tersebut antara lain diarahkan untuk memperbaiki kemampuan startup dalam menyusun laporan keuangan hingga mempersiapkan perusahaan menuju penawaran umum perdana saham atau IPO.
Baca Juga: Hatten Bali (WINE) Fokus Garap Pasar Turis Asing pada Semester II-2026 Pasalnya, salah satu tujuan investasi awal pada startup adalah memperoleh keuntungan ketika perusahaan berhasil melantai di bursa dengan valuasi yang lebih tinggi. “Untuk itu, dibutuhkan kinerja perusahaan yang positif dari sisi operasional, kinerja profit, hingga pada aspek keterbukaan informasi,” kata Nailul. Dengan keterlibatan yang lebih besar tersebut, VC diharapkan dapat mengantisipasi potensi
fraud maupun miss management di perusahaan rintisan. Sementara itu, dari sisi sektor, Nailul melihat bisnis digital yang berkaitan dengan kebutuhan tradisional masyarakat masih memiliki prospek. Perdagangan online dan teknologi finansial, khususnya layanan pinjaman daring, dinilai masih menjadi sektor yang berpotensi menarik pendanaan. Kedua sektor tersebut dinilai masih memiliki kebutuhan pasar meski sejumlah platform telah berhenti beroperasi. Perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor yang menjaga permintaan terhadap layanan digital tersebut. Untuk sektor
ride-hailing, permintaan masyarakat diperkirakan tetap ada. Namun, regulasi yang semakin ketat membuat prospek investasi melalui private placement di sektor tersebut menjadi lebih sulit dipastikan. Di tengah kondisi pendanaan yang masih selektif, Nailul juga menilai peluang munculnya unicorn atau bahkan decacorn baru di Indonesia tidak mudah. Persaingan tidak hanya datang dari perusahaan digital dengan layanan serupa, tetapi juga dari perusahaan non-digital yang ikut berkembang di sektor yang sama. “Kalau untuk menciptakan unicorn atau
decacorn, memang cukup sulit,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News