Tech Winter Masih Membayangi, Modal Ventura Utamakan Startup Berfundamental Kuat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena tech winter dinilai masih akan menjadi tantangan industri modal ventura di Indonesia. Meski demikian, kondisi ini justru disebut bisa menjadi fase konsolidasi yang mendorong ekosistem startup lebih sehat.

Direktur ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan, investor modal ventura saat ini jauh lebih selektif dibanding beberapa tahun lalu. Fokus investasi kini bergeser dari pertumbuhan pengguna menuju profitabilitas, arus kas yang sehat, tata kelola perusahaan, serta model bisnis yang berkelanjutan.

"Modal ventura juga tidak lagi sekadar mencari perusahaan dengan pertumbuhan tercepat, tetapi yang memiliki tata kelola yang baik, jalur menuju profitabilitas, dan inovasi yang benar-benar memberikan nilai tambah," ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).


Baca Juga: Laba SAN Finance (SANF) Tumbuh 5,53% pada Semester I-2026

Saat ini perhatian investor tidak lagi melihat pertumbuhan saja, tetapi mulai memperhatikan profitabilitas, arus kas yang sehat, tata kelola perusahaan, dan modal bisnis yang berkelanjutan.

Meski kondisi ini memperlambat investasi, namun ekosistem startup didorong jadi lebih matang karena perusahaan dengan fundamental sehat yang bisa bertahan dan berkembang.

Sayangnya, ia menilai tech winter hingga kini belum sepenuhnya menunjukkan pemulihan total meski indikasi berbaikan sudah mulai terlihat.

Kini investasi dikembangkan pada sektor dengan model bisnis jelas, seperti AI, teknologi kesehatan, fintech, cybersecurity, climate tech, dan solusi digital untuk dunia usaha.

Dengan tren ini, Heru menilai kalau modal ventura akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Di sisi lain, industri modal ventura juga dipandang akan lebih memilih perusahaan yang lebih berkualitas untuk didanai.

Pandangan tersebut sejalan dengan yang dirasakan Venture Partner Init-6, Rexi Christopher. Ia menilai tech winter masih akan berlangsung sepanjang tahun ini, namun justru mendorong pelaku industri untuk lebih selektif dalam memilih perusahaan portofolio.

"Kondisi ini mendorong kami lebih berfokus pada fundamental bisnis investee, bukan semata valuasi. Kami memandang ini sebagai fase konsolidasi yang sehat bagi ekosistem startup di Indonesia," ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga: Aset Dana Pensiun Tembus Rp1.680 Triliun pada Juni 2026, Tumbuh 6,47%

Rexi mengatakan, tech winter tidak secara langsung menghambat aktivitas pembiayaan Init-6, tetapi membuat proses seleksi investasi menjadi lebih panjang. Perusahaan kini lebih memperhatikan kualitas pendiri (founder), model bisnis yang berkelanjutan, serta efisiensi pengelolaan aset dan biaya operasional.

Ke depan, Init-6 tetap optimistis terhadap prospek industri modal ventura, meski akan tetap berhati-hati dalam menyalurkan investasi. Perusahaan akan terus membidik sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan struktural, seperti AI, kesehatan, pendidikan, dan konsumer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News