KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan kesadaran terhadap kesehatan masyarakat mulai berdampak pada cara pandang pelaku industri. Di industri kesehatan, mereka mulai memandang pendekatan berbasis pencegahan. Seiring bertambahnya populasi usia lanjut dan tingginya kasus penyakit kronis, kebutuhan terhadap solusi preventif dinilai akan terus meningkat. Seperti isu penyakit cacar api atau herpes zoste. Pandangan soal penyakit ini tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga dalam kaitannya dengan produktivitas tenaga kerja dan beban ekonomi. Risiko penyakit ini diketahui lebih tinggi pada kelompok usia di atas 50 tahun serta individu dengan komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes, dan gangguan pernapasan.
Pendekatan saat ini menitikberatkan pada edukasi risiko dan dorongan untuk melakukan pencegahan lebih dini. Strategi ini lebih relevan, mengingat dampak penyakit tidak hanya dirasakan secara individu, juga berpotensi memengaruhi produktivitas dan efisiensi ekonomi. Data survei global menunjukkan, 42% responden yang pernah mengalami cacar api merasakan nyeri berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Sementara 33% menyebut penyakit ini berdampak pada produktivitas. Namun lebih dari separuh responden (54%) mengaku belum pernah mendiskusikan penyakit ini dengan tenaga medis. Kondisi tersebut mencerminkan masih terbukanya ruang bagi peningkatan literasi sekaligus pengembangan layanan preventif di sektor kesehatan. Terlebih, sejumlah penyakit kronis diketahui meningkatkan risiko cacar api, Seperti penyakit jantung (34%), diabetes (38%), hingga penyakit paru seperti PPOK atau asma (41%).
Baca Juga: Gejala, Pola Penularan, dan Risiko Penyakit Virus Nipah Menurut WHO Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menekankan pentingnya penguatan strategi pencegahan dalam menjaga keberlanjutan sistem kesehatan. “Pencegahan adalah langkah krusial melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga produktivitas nasional. Imunisasi dewasa bukan lagi pilihan tambahan. Melainkan kebutuhan kesehatan masyarakat yang penting untuk mengurangi beban penyakit,” ujarnya, Selasa (28/4) Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP Perki), Ade Meidian Ambari menjelaskan, kelompok pasien dengan penyakit jantung memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi. “Pencegahan cacar api sama pentingnya dengan menjaga kesehatan jantung. Pasien dengan penyakit jantung perlu mendapatkan edukasi agar terhindar dari risiko infeksi yang dapat memperburuk kondisi,” jelasnya. Dari sisi industri, pendekatan berbasis kolaborasi lintas sektor ini juga membuka peluang pengembangan ekosistem layanan kesehatan yang lebih terintegrasi, mulai dari edukasi, layanan digital, hingga pencegahan berbasis vaksinasi. Direktur
Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia, Reswita Dery Gisriani menyebutkan risiko cacar api di Indonesia meningkat pada kelompok dengan kondisi tertentu serta faktor usia.
“Perlindungan terhadap penyakit ini perlu menjadi perhatian, tidak hanya bagi kelompok berisiko, tetapi juga masyarakat secara luas,” ujarnya. Dengan tren tersebut, upaya pencegahan diperkirakan tidak hanya menjadi isu kesehatan. Namun bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga produktivitas tenaga kerja serta menekan potensi beban ekonomi akibat penyakit yang dapat dicegah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News