Tekan Emisi, Indocement (INTP) Gencarkan Penggunaan Semen Hijau Ramah Lingkungan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Semen menjadi salah satu komponen bahan bangunan yang memegang peranan vital dalam kehidupan masyarakat. Permintaan bahan bangunan ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, seiring meningkatnya pembangunan infrastruktur dan permintaan di sektor properti.

Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh industri semen, diantaranya adalah jejak emisi yang dihasilkan dari proses produksi semen. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan juga mendorong permintaan terhadap produk semen ramah lingkungan. Sehingga, kehadiran semen ramah lingkungan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri semen.

Guna menjawab sejumlah tantangan tersebut, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) terus berinovasi menghadirkan produk semen ramah lingkungan, rendah jejak emisi, dan berkualitas. Inovasi ini guna mendukung target pemerintah untuk mencapai net zero emission (NZE) pada 2060 mendatang. Selain itu, penggunaan produk semen hijau juga seirama dengan tujuan Indocement, yaitu “Material to Build Our Future”.


Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya mengatakan, Indocement berupaya untuk memproduksi produk semen ramah lingkungan yang rendah emisi karbon dioksida (CO2). Hal ini sejalan dengan target penurunan emisi Indocement, yakni sebesar 575 kg CO2 per ton cement equivalent pada tahun 2025 dan 490 kg CO2 per ton cement equivalent pada 2030 mendatang.

Baca Juga: Perbanyak Titik Drop-Off Anteraja, Adi Sarana (ASSA) Gaet Anak Usaha Telefast (TFAS)

Digunakan di sejumlah proyek prestisius 

Salah satu produk semen hijau unggulan milik Indocement adalah semen hidraulis. Semen hijau ini memiliki rasio (kadar) klinker yang lebih rendah, sehingga emisi karbon yang dihasilkan juga lebih rendah 80 kg sampai 100 kg per ton semen dibandingkan dengan semen jenis ordinary portland cement (OPC). Adapun produksi semen hidraulis Indocement pada tahun lalu mencapai 211,7 ribu ton semen.

Indocement juga terus mendorong penggunaan semen hijau lainnya, yakni port slag semen (PSC). Catatan saja, Indocement memiliki produk jenis semen slag dengan merk Duracem, yakni semen berjenis blended cement dengan menggunakan limbah jenis slag. Dalam proses produksinya, Duracem menghasilkan emisi CO2 yang rendah, sehingga sangat ramah lingkungan.

Semen jenis ini memiliki sejumlah keunggulan teknis. Keberadaan slag (sisa hasil pembakaran pada industri baja) sebagai additive material membuat beton mempunyai waktu setting yang cukup, sehingga mengurangi potensi keretakan. Selain itu, semen slag melepaskan panas hidrasi rendah, tahan terhadap sulfat, durabilitas yang tinggi, serta memiliki masa pertumbuhan kuat tekan lebih panjang.

Duracem merupakan solusi dari low-heat hydration cement yang bisa digunakan sebagai bahan baku konstruksi besar, mulai dari struktur beton, jembatan, bendungan, serta bangunan tinggi (high rise building).

Produk ramah lingkungan tersebut sudah digunakan dalam berbagai proyek infrastruktur prestisius, seperti Pelabuhan Patimban fase pertama di Jawa Barat. Duracem telah digunakan oleh kontraktor Penta Ocean untuk pembangunan pelabuhan terbesar di Indonesia tersebut.

Terakhir, Indocement memiliki semen hijau jenis Portland Composite Cement (PCC). Semen ini lebih rendah panas hidrasi dibandingkan OPC, sehingga lebih mudah pengerjaannya untuk pembetonan (fresh concrete). PCC juga menghasilkan campuran beton yang lebih kedap, sehingga beton lebih tahan terhadap serangan kimia atau alkali yang berasal dari lingkungan.

Semen jenis PCC juga telah digunakan dalam sejumlah bangunan vital. Proyek infrastruktur prestisius yang dibangun dengan menggunakan semen jenis ini diantaranya dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Jawa Tengah, yakni PLTU Batang dan PLTU Tanjung Jati.

Adapun ketiga jenis semen ini sesuai dengan kriteria jenis semen yang disarankan pada Instruksi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 04/IN/M/2020 tentang Penggunaan Semen Non-Ordinary Portland Cement Pada Pekerjaan Konstruksi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Ada tiga pertimbangan yang mendasari ketiga jenis semen hijau ini sejalan dengan instruksi Menteri PUPR. Pertama, semen-semen hijau ini dapat menurunkan emisi gas rumah kaca. Kedua, penggunaan semen hijau mengoptimalkan penggunaan material konstruksi yang ramah lingkungan. Ketiga, semen non-OPC memiliki manfaat dari sisi lingkungan dengan spesifikasi sesuai pekerjaan konstruksi.

Indocement pun siap berkontribusi di proyek prestisius lainnya dengan menggunakan produk semen hijau, diantaranya pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur. Pembangunan proyek IKN bisa menjadi momentum menggencarkan penggunaan semen hijau.

“Produk hijau kami siap memasok kebutuhan semen untuk membangun IKN,” kata Christian dalam peringatan Hari Bangunan Indonesia di Titik 0 IKN, Jumat (11/11).

Dengan melihat sejumlah keunggulan yang dimiliki semen hijau, penggunaan semen ramah lingkungan dapat terus digalakkan ke depan. Menurut Christian, kunci dari transisi ke penggunaan semen hijau adalah edukasi. Sebab, diperlukan waktu dan edukasi bagi masyarakat umum untuk memahami keunggulan dari produk semen hijau serta pentingnya beralih menggunakan produk semen yang ramah lingkungan.

Serangkaian kegiatan telah dilakukan Indocement untuk menyosialisasikan semen ramah lingkungan ini. Misal, menggelar rangkaian acara Indocement Goes to Campus, baik secara daring maupun luring, untuk memperkenalkan produk semen hijau di lingkungan civitas academica.

Penggunaan semen ramah lingkungan juga membutuhkan dukungan penuh dari Pemerintah, khususnya Kementerian PUPR lewat perubahan spesifikasi di dokumen tender, khususnya untuk proyek infrastruktur dan proyek PUPR lainnya. Sehingga, kolaborasi antara masyarakat dengan pemerintah diharapkan bisa meningkatkan penggunaan produk hijau.

Baca Juga: Kino Indonesia (KINO) Yakin Bisa Kembali Meraih Laba Bersih di Tahun 2023

Terus menggenjot penggunaan energi alternatif

Indocement juga memastikan pengelolaan dampak lingkungan dalam setiap aktivitas operasionalnya. Pada 2021, emiten ini telah membentuk komite keberlanjutan yang akan mengawal penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di lingkungan perusahaan.

Tak hanya dari segi produk, kepedulian Indocement terhadap lingkungan juga dibuktikan dengan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, salah satunya dengan memanfaatkan limbah. Pemanfaatan limbah ini sejalan dengan tujuan Indocement untuk menggunakan bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil sampai dengan 25% di tahun 2025. Hal ini dibuktikan Indocement dengan melakukan penandatanganan komitmen kerjasama penyediaan Refuse-Derived Fuel (RDF) bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta pada 10 Oktober 2022 silam.

Indocement telah berinvestasi lebih dari Rp 1 triliun dalam lima tahun ini untuk memanfaatkan bermacam bahan bakar alternatif dan bahan baku alternatif, termasuk pemanfaatan sampah perkotaan dari tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantargebang dalam bentuk RDF.

Perjanjian kerja sama jual-beli dengan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pengelolaan Sampah Terpadu diharapkan bisa segera rampung, dan pengambilan RDF diharapkan dapat dimulai pada kuartal pertama 2023.

Selain memiliki biaya investasi yang paling efisien, RDF juga dapat mengurangi emisi CO2 serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Penggunaan RDF juga dapat membantu mengurangi penggunaan batubara dalam proses produksi semen, sejalan dengan tujuan Indocement yakni “Material to Build Our Future”.

Sebagai pelopor di sektor industri semen yang sudah menerapkan Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri Kontinyu (SISPEK), Indocement secara rutin melakukan evaluasi peta jalan strategi perubahan iklim untuk memastikan penurunan emisi sesuai dengan target.

“Selain kerjasama untuk menerima RDF dari TPST Nambo, kami juga telah menjajaki bekerja sama untuk menerima RDF dari tempat pengolahan sampah terpadu lainnya,” pungkas Christian.

Sejak tahun 2015, Indocement terus melakukan pengurangan emisi debu dengan memasang bag filters untuk menggantikan electrostatic precipitators (EP). Dibandingkan dengan EP, bag filters lebih efektif dalam menangkap emisi debu, yaitu menjadi di bawah 20 mg per Nm³, jauh di bawah baku mutu emisi industri semen sebesar 60 mg per Nm3.

Kepedulian Indocement terhadap lingkungan juga ditunjukkan melalui penanganan sampah sisa semen. Melalui program #Trashback, Indocement bersama dengan para bisnis partner akan mengambil kembali sampah sak Semen Tiga Roda untuk dimanfaatkan kembali. Inisiatif ini melengkapi sejumlah langkah Indocement dalam mewujudkan kelestarian lingkungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi