KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan ke Irak dengan menghentikan pengiriman dolar dan membekukan sebagian kerja sama keamanan. Langkah ini disebut sebagai upaya langsung untuk menekan milisi yang didukung Iran agar dibubarkan. Laporan Wall Street Journal menyebut, pemerintahan Presiden AS Donald Trump menahan pengiriman uang tunai dolar AS ke Irak, termasuk dana hasil penjualan minyak negara tersebut.
Baca Juga: Drone Hantam Fasilitas Diplomatik AS di Irak, Diduga Aksi Balasan Milisi Pro-Iran Tak tanggung-tanggung, sekitar US$ 500 juta dalam bentuk uang kertas yang tersimpan di Federal Reserve Bank of New York diblokir oleh pejabat Departemen Keuangan AS. “Pengiriman dolar dihentikan sebagai bagian dari tekanan agar milisi bersenjata dibubarkan,” demikian penegasan sumber dalam laporan tersebut. Tak hanya jalur finansial, Washington juga menangguhkan pendanaan untuk sejumlah program kontra-terorisme dan pelatihan militer bagi Irak. Penghentian ini bersifat sementara, dengan syarat Baghdad harus menghentikan serangan milisi dan mengambil langkah konkret membubarkan kelompok bersenjata pro-Iran.
Baca Juga: Perang Iran-AS Memanas, Harga Minyak Diprediksi Capai US$ 130! Tekanan ini muncul setelah eskalasi serangan drone yang menargetkan fasilitas diplomatik AS di Baghdad. Awal bulan ini, sebuah serangan drone menghantam kompleks diplomatik utama AS, memicu kemarahan Washington. Serangkaian serangan sebelumnya juga dituding dilakukan oleh milisi yang berafiliasi dengan Iran. Sebagai respons, AS bahkan telah memanggil duta besar Irak untuk meminta penjelasan sekaligus menegaskan sikap tegasnya.
Langkah pengetatan ini menandai perubahan signifikan pendekatan AS terhadap Irak: dari sekadar mitra keamanan menjadi objek tekanan geopolitik. Di satu sisi, Washington ingin memastikan pengaruh Iran di Irak ditekan.
Baca Juga: Jurnalis AS yang Diculik di Irak Dibebaskan, Washington Pastikan Evakuasi Aman Di sisi lain, kebijakan ini berisiko mengguncang stabilitas ekonomi Irak yang masih sangat bergantung pada aliran dolar dari hasil ekspor minyaknya. Hingga kini,
Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen, sementara Departemen Keuangan AS dan Federal Reserve belum memberikan tanggapan resmi.