Tekanan AS pada Korea Selatan soal Huawei, memicu kekhawatiran soal Korea Utara



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Amerika Serikat meningkatkan tekanan pada sekutunya Korea Selatan atas Huawei. Tekanan ini meningkat di tengah kekhawatiran Seoul akan kehilangan akses intelijen yang bisa membantu negara tersebut mengawasi Korea Utara.

Seperti diberitakan South China Morning Post, tekanan tersebut adalah bagian dari upaya yang lebih luas oleh Washington untuk mengisolasi raksasa teknologi China itu. 

Di antaranya lewat memanfaatkan dilema yang dihadapi oleh pemerintahan Moon Jae-in ketika berusaha untuk menjaga keseimbangan hubungan antara AS sebagai sekutu keamanannya, dan China yang merupakan mitra utama dari Korea Selatan soal perdagangan.


Di antara sekutu terdekat AS di Asia, Seoul mengandalkan kemampuan intelijen Washington untuk mengawasi Utara yang terbilang suka berkonflik. Di bawah pakta pertahanan, Korea Selatan menampung 28.500 tentara AS di negara tersebut sebagai benteng melawan provokasi Korea Utara.

"Banyak orang di Korea Selatan sangat prihatin jika pemerintahan Moon Jae tidak berpartisipasi dalam kampanye anti-Huawei yang dipimpin AS. Karena dikhawatirkan tidak akan ada pertukaran informasi militer antara kedua negara," kata Kim Jong-ha, seorang pakar keamanan di Universitas Hannam, Korea Selatan. 

"Lebih jauh, pada akhirnya bisa menyebabkan kerusakan aliansi kedua negara," lanjut dia.

Sebelumnya dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh surat kabar Donga asal Korea Selatan, Randall Schriver, pejabat tinggi Pentagon untuk wilayah Semenanjung Korea mengeluarkan peringatan terselubung agar tidak memihak pada Huawei.

"Amerika Serikat tidak ingin melihat situasi di mana kami tidak memiliki kepercayaan diri dalam berbagi informasi sensitif dengan sekutu kami," kata Schriver, Asisten Menteri Pertahanan AS untuk urusan keamanan Asia dan Pasifik.

Komentar tersebut muncul hanya beberapa minggu setelah Harry Harris, duta besar AS untuk Korea Selatan, mengeluarkan peringatan yang sama tentang Huawei. Ia mengatakan bahwa AS tidak ingin mengekspos informasi keamanan sensitif ke tingkat risiko yang tidak dapat diterima.

"Kami juga harus mengevaluasi kembali bagaimana kami berbagi informasi dengan sekutu," katanya.

Editor: Tendi Mahadi