KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak di pasar saham mulai berdampak ke pasar surat utang, tercermin dari kenaikan premi risiko investasi dan imbal hasil surat berharga negara (SBN). Meski begitu, tekanan di pasar SBN dinilai masih terkendali dan belum menimbulkan risiko serius terhadap pembiayaan utang pemerintah. Premi risiko investasi Indonesia yang tercermin dari credit default swap (CDS) tenor lima tahun naik ke level 76,46 basis poin (bps) pada Rabu (4/2/2026), dari 75,31 bps pada 29 Januari 2026.
Baca Juga: Purbaya: Pelebaran Defisit Fiskal dan Anjloknya IHSG Berdampak Terbatas ke Pasar SBN Sejalan dengan itu, yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 6,3%, lebih rendah dari puncaknya di 6,36% pada 30 Januari 2026. Namun secara
year to date, yield SBN 10 tahun telah naik sekitar 25 bps. Pada lelang SBN yang digelar Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Selasa (3/2), pemerintah berhasil menghimpun dana Rp 36 triliun, melampaui target indikatif. Meski demikian, rasio penawaran terhadap target turun menjadi 2,32 kali, terendah sejak Januari 2025, menandakan sikap investor yang lebih berhati-hati. Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengatakan, tekanan di pasar modal memang mulai merembet ke pasar surat utang.
Baca Juga: BI Serap SBN Rp 332,1 Triliun Sepanjang 2025 Dukung Program Pemerintah Namun, intensitasnya masih jauh lebih ringan dibandingkan guncangan di pasar saham. Tekanan terbesar, menurut dia, masih terkonsentrasi di bursa saham. Hal ini terlihat dari koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) yang turun dari level 8.980 pada 27 Januari 2026 menjadi 7.922 pada 2 Februari 2026. Pada periode 26–29 Januari 2026, investor asing juga mencatatkan jual bersih sebesar Rp 12,40 triliun di pasar saham. Sebaliknya, tekanan di pasar SBN relatif terbatas. Dalam periode yang sama, jual bersih investor asing di pasar surat utang hanya mencapai Rp 2,77 triliun.
“Perbedaan volume jual neto yang cukup mencolok antara pasar saham dan pasar SBN menjadi bukti bahwa transmisi risiko ke pasar surat utang masih terkendali,” ujar Suhindarto. Dari sisi imbal hasil, Suhindarto mencatat
yield SBN tenor 10 tahun memang naik sekitar 26 bps secara bulanan menjadi 6,325%. Namun secara mingguan,
yield justru turun 4 bps.
Baca Juga: Pemerintah Rancang SBN Valas Domestik ala Tax Amnesty 2022 untuk Serap DHE SDA Ia menilai, kenaikan
yield di awal 2026 lebih banyak dipicu faktor eksternal, seperti dinamika geopolitik global dan kenaikan imbal hasil US Treasury.