Tekanan Domestik Dominan, Yield SBN Masih Rentan Naik



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih berada dalam tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik.

Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan yield SBN tenor 10 tahun yang menembus kisaran 6,37% pada Senin (26/1), naik dari sekitar 6,04% pada awal 2026.

Tekanan juga terlihat di pasar perdana. Pada lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) tanggal 20 Januari 2026, pemerintah menyerap dana sebesar Rp 36 triliun.


Namun, total penawaran yang masuk hanya mencapai Rp 82,90 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya pada 6 Januari 2026 yang mencatatkan penawaran Rp 90,96 triliun.

Baca Juga: Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Berpotensi Bawa Sentimen Positif bagi IHSG

Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management Domingus Sinarta Ginting menilai, tekanan di pasar obligasi negara saat ini lebih dominan dipicu oleh faktor domestik.

Kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit fiskal mendorong pelaku pasar mengantisipasi peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah, yang berarti suplai SBN ke depan berpotensi bertambah.

“Dalam kondisi suplai meningkat, investor secara rasional akan meminta premi imbal hasil yang lebih tinggi, terutama untuk tenor menengah hingga panjang. Hal ini membuat investor menjadi lebih price sensitive dalam lelang,” ujar Domingus kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Ia menambahkan, investor sebenarnya masih berpartisipasi dalam lelang, namun menuntut konsesi yield yang lebih menarik. Ketika level imbal hasil dinilai belum cukup kompensatif, permintaan pun menurun, yang tercermin dari penurunan bid coverage ratio.

Alhasil, investor menjadi lebih selektif dan menunggu level harga yang lebih murah sebelum kembali agresif masuk ke pasar SBN.

Tak hanya itu saja, Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menyoroti Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Juda Agung sebagai sentimen negatif tambahan.

Menurutnya, langkah tersebut dipersepsikan pasar sebagai kemunduran independensi BI dan mengandung muatan politik yang lebih kuat dibandingkan pencalonan sebelumnya.

Selain itu, pelemahan rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir juga menambah tekanan di pasar obligasi. Namun, Domingus menilai pelemahan rupiah bukan sekadar faktor sentimen, melainkan cerminan dari arus modal keluar.

“Data menunjukkan hingga pertengahan Januari, nonresiden mencatatkan jual neto di pasar SBN sekitar Rp 9,91 triliun. Outflow ini menekan rupiah sekaligus mengurangi permintaan marginal di pasar obligasi,” jelas Domingus.

Kalau dilihat dari sisi eksternal, tekanan juga diperburuk dengan adanya gejolak di pasar obligasi Jepang menjadi salah satu pemicu utama, ditandai dengan lonjakan yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun.

Selain itu, ancaman tarif dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Eropa terkait ketegangan Greenland serta menguatnya sentimen “Sell America” turut memperburuk kinerja pasar obligasi negara maju.

Kondisi tersebut pada akhirnya makin menekan minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, Ahmad mencermati bahwa penurunan permintaan lelang SUN dinilai tidak semata-mata mencerminkan lemahnya minat investor. Penawaran masuk yang rendah belum tentu akibat rendahnya partisipasi. Ia mencatat, bid-to-cover ratio lelang SUN sepanjang Januari 2026 masih berada di level 2,6 kali.

“Artinya, jumlah penawaran yang masuk masih 2,6 kali dari jumlah yang dimenangkan. Ini menunjukkan partisipasi investor sebenarnya masih cukup solid,” ujar Ahmad kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Sejalan dengan itu, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto berpandangan bahwa pelemahan pasar obligasi yang terjadi saat ini bersifat sementara.

“Kalau dari dalam negeri, saya melihat pemerintah cukup agresif menyikapi kondisi ini, dan BI juga masuk ke market sehingga cukup menenangkan pelaku pasar, khususnya fund manager di pasar surat utang negara,” jelas Ramdhan kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Kondisi ini pula ditandai dengan investor domestik justru masih aktif melakukan pembelian di pasar sekunder. Aktivitas pembelian tersebut terlihat dari pelaku perbankan dan dana pensiun yang tetap masuk ke pasar obligasi.

Lebih lanjut, dalam kondisi pasar yang masih volatile ini Domingus menilai strategi investor yang paling rasional adalah memaksimalkan carry dengan tetap disiplin mengelola durasi.

Investor disarankan masuk secara bertahap, fokus pada tenor yang likuid, serta memanfaatkan volatilitas di pasar lelang maupun sekunder untuk mengunci yield yang menarik.

Ke depan, Domingus memperkirakan pergerakan yield SBN masih cenderung terbatas (range-bound) dengan bias naik hingga terdapat sinyal stabilisasi yang lebih jelas. Untuk kuartal I 2026, ia memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun berada di kisaran 6,25%-6,60%.

Kemudian Ahmad memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun bergerak di kisaran 6,10%-6,30%. Sementara Ramdhan masih cukup optimistis yield bisa mendekati 6,0% lagi di kuartal I 2026.

Baca Juga: Sentimen Regulasi dan Aksi Korporasi Dongkrak Saham Emiten Asuransi

Selanjutnya: Barito Renewables Energy (BREN) Resmi Masuk Jajaran Indeks LQ45, Gantikan ACES

Menarik Dibaca: Hujan Petir di Pagi Hari, Ini Prakiraan BMKG Cuaca Besok (27/1) di Jakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News