KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada 2026 diperkirkan akan menghadapi tekanan, seiring mulai melemahnya kinerja ekspor pada akhir 2025. Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita mengatakan, tekanan terhadap surplus neraca dagang ke depan terutama berasal dari potensi penurunan kinerja ekspor, baik akibat faktor eksternal maupun kebijakan domestik. Salah satu faktor yang berpotensi membebani ekspor adalah penerapan bea keluar atas emas dan batubara. “Ke depan, penerapan bea keluar atas emas dan batu bara berpotensi menekan kinerja ekspor pada 2026. Tekanan tersebut dapat diperparah oleh penurunan volume ekspor minyak sawit akibat banjir di Sumatra,” ujar Hosianna, Senin (5/1/2026).
Tekanan terhadap ekspor tersebut mulai terlihat dari penurunan kinerja ekspor Indonesia pada November 2025. Meski demikian, Indonesia masih mampu mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut. Pada November 2025, surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$ 2,66 miliar, meningkat dibandingkan US$ 2,39 miliar pada Oktober 2025 dan US$ 2,24 miliar pada Desember 2024. Capaian ini menunjukkan ketahanan neraca dagang Indonesia, meskipun kinerja ekspor mulai menghadapi tekanan menjelang akhir tahun.
Baca Juga: Ekspor Migas RI Turun 17,64% Jadi US$ US$ 11,81 Miliar di Januari-November 2025 Hosianna menyebut dengan pelemahan ekspor Indonesia pada November 2025 yakni tercatat US$ 22,52 miliar, turun 6,60% secara tahunan (year on year/YoY), terutama dipicu kontraksi tajam sektor pertambangan sebesar 22,28% yoy dan hanya mencapai US$ 2,99 miliar. “Penurunan ini terutama berasal dari merosotnya pengiriman batu bara ke Tiongkok sebesar 27,18% YoY dan India yang terkontraksi 24,70% YoY, seiring lemahnya harga global serta dipengaruhi efek basis yang tinggi,” ungkap Hosianna. Di sisi lain, impor justru meningkat 0,46% YoY menjadi US$ 19,86 miliar. Kenaikan ini ditopang oleh impor minyak dan gas yang mencapai US$ 2,86 miliar, tumbuh 11,19% YoY. Impor barang modal melesat 17,27% YoY, terutama peralatan listrik dan mesin. Sementara itu, impor bahan baku masih terkontraksi 3,56% YoY, meski pesanan manufaktur baru mulai menguat sejak Oktober 2025. Secara kumulatif, surplus perdagangan Indonesia pada periode Januari–November 2025 mencapai US$ 38,54 miliar, tumbuh 31,81% YoY. Kinerja ini ditopang oleh surplus besar dengan mitra ASEAN (tidak termasuk Filipina dan Singapura) sebesar US$ 7,29 miliar, melonjak 210,22% YoY. Namun, Amerika Serikat tetap menjadi kontributor surplus terbesar secara individual dengan nilai US$ 16,54 miliar, meskipun impor mesin dari negara tersebut meningkat. Impor mesin menyumbang 17,41% dari total impor dan tumbuh 6,22% YoY, sedangkan peralatan listrik berkontribusi 15,77% dengan pertumbuhan 14,84% YoY. Penguatan ini sejalan dengan ekspansi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Desember 2025 yang berada di level 51,2, mencerminkan percepatan output dan produksi. Sementara itu, impor kendaraan berkontribusi 5,28% dari total impor dan melonjak 12,89% YoY, didominasi oleh Tiongkok sebesar US$ 4,37 miliar, seiring puncak penjualan grosir kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) menjelang tenggat 31 Desember 2025.
Baca Juga: Total Impor RI Meningkat 0,46% Jadi US$ 19,86 Miliar Pada November 2025 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News