Tekanan Eksternal Masih Membayangi Rupiah, Intip Prospeknya Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi oleh tekanan eksternal meski penyangga dari dalam negeri cukup kuat untuk menahan pelemahan yang lebih dalam.

Melansir data Bloomberg pada Jumat (28/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,29% atau 51 poin ke level Rp 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Trading Economics, mata uang Garuda menguat ke posisi Rp 17.689,4 per dolar AS, sedangkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan penguatan 0,33% dari Rp 17.762 menjadi Rp 17.703 per dolar AS.


Baca Juga: Tarik-Menarik Dolar dan Risiko Domestik, Cek Prospek Rupiah Pekan Depan

Sepanjang sepekan terakhir, ruang apresiasi mata uang domestik relatif terbatas seiring dengan kokohnya keperkasaan dolar AS dan imbal hasil (yield) US Treasury yang bertahan tinggi.

Meski demikian, bantalan fundamental seperti BI-Rate sebesar 5,75%, cadangan devisa senilai US$ 145,3 miliar, serta berlanjutnya aliran modal masuk mampu meredam volatilitas sehingga rupiah tetap terjaga fluktuatif di level Rp 17.700-an per dolar AS.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman menilai bahwa dinamika pasar keuangan global dalam jangka pendek masih memegang peranan dominan terhadap arah pergerakan rupiah.

Memasuki pekan depan, fokus pasar akan tertuju pada rilis data tenaga kerja AS, ekspektasi arah suku bunga acuan The Fed, pergerakan yield Treasury, hingga eskalasi geopolitik serta harga minyak dunia.

“Dalam jangka pendek rupiah masih sangat sensitif terhadap risk appetite global, sementara fundamental domestik lebih berfungsi sebagai penahan agar depresiasi tidak berlangsung terlalu dalam,” ungkap Rizal kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).

Rizal menambahkan bahwa pasar keuangan domestik juga akan tetap mencermati stabilitas arus modal asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Efektivitas langkah stabilisasi Bank Indonesia serta dinamika politik dalam negeri turut menjadi perhatian investor dalam menjaga selera investasi di pasar keuangan lokal.

Untuk sepekan ke depan, Rizal memproyeksikan rupiah akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah terbatas pada kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.950 per dolar AS.

Meskipun ada peluang penguatan apabila dolar global terkoreksi dan capital inflow meningkat, level Rp 18.000 per dolar AS diperkirakan tetap menjadi batas psikologis utama yang dijaga ketat oleh otoritas moneter melalui intervensi pasar.

“Artinya, volatilitas masih tinggi, tetapi belum menunjukkan tekanan fundamental yang mengarah pada pelemahan tajam,” ujar Rizal.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Lanjut Menguat, Didorong Pelemahan Indeks Dolar AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News