KONTAN.CO.ID - Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memperkirakan potensi arus keluar modal atau capital outflow dari Indonesia pada kuartal II-2026 dapat mencapai US$ 4,2 miliar. Tekanan arus keluar tersebut dipicu oleh musim pembagian dividen perusahaan, meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk ibadah haji, serta pembayaran utang jatuh tempo pemerintah. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan nilai tukar rupiah sekaligus menahan ruang penurunan imbal hasil surat berharga negara (SBN). “Hot money outflow kan sebenarnya sudah banyak keluar pada kuartal pertama. Kalau kita hitung-hitung sih potensi outflow itu sekitar US$ 4,2 miliar di kuartal II. Itu seharusnya maksimalnya segitu,” ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (10/5/2026).
Menurut Myrdal, tekanan outflow berasal dari dua jalur, yakni current account serta capital and financial account. Dari sisi current account, tekanan terutama datang dari pembayaran dividen yang masuk dalam primary income account. Pada periode pembagian dividen, permintaan valas biasanya meningkat karena investor asing melakukan repatriasi pendapatan ke negara asal. Sementara itu, dari capital and financial account, tekanan muncul dari potensi arus keluar dana asing pada investasi portofolio, khususnya di pasar saham.
Baca Juga: Penyaluran KUR Rp 96 Triliun, Airlangga Bocorkan Stimulus Baru: Bunga Turun Jadi 5% Meski demikian, Myrdal berharap tekanan outflow tersebut dapat diimbangi oleh surplus perdagangan yang lebih besar. Menurutnya, pelemahan rupiah justru berpotensi memperlebar surplus perdagangan Indonesia. “Nah, kita harapkan di pos trade balance itu akan meng-counter demand valas yang keluar dari sistem keuangan kita karena dividen,” katanya. Ia menilai arus keluar dana asing di pasar saham masih cukup kuat pada kuartal II. Namun, di pasar SBN, investor asing mulai kembali masuk karena imbal hasil obligasi Indonesia dinilai masih menarik dibandingkan negara lain. “Kita harapkan investor tertarik melihat imbal hasil kita yang saat ini relatif atraktif,” ujarnya. Myrdal juga memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan dalam jangka pendek. Namun, ia berharap level Rp 17.000 per dolar AS tidak ditembus, mengingat posisi cadangan devisa Bank Indonesia masih kuat serta surplus perdagangan tetap terjaga. “Kalau rupiah sih saya berharap level Rp 17.000 itu tidak break karena kapasitas BI masih kuat,” katanya. Menurut dia, jika konflik Timur Tengah serta gangguan jalur perdagangan global berlangsung hingga akhir tahun, yield SBN tenor 10 tahun berpotensi bergerak di kisaran 6,9%–7,1%. Dalam skenario tersebut, rupiah juga berpotensi melemah hingga berada di sekitar Rp 17.300 per dolar AS.
Tonton: Update Haji 2026 Hari ke-20: Pemerintah Warning Visa Nonprosedural, 125 Ribu Jemaah Sudah Tiba! Sebaliknya, jika tekanan global mereda pada kuartal III-2026 dan harga minyak dunia turun, yield SBN diperkirakan bisa menurun ke level 6,3% hingga 5,9%. Adapun jika pemerintah melakukan refinancing atas utang jatuh temponya, Myrdal berharap pemerintah memperpanjang tenor utang agar biaya pinjaman lebih murah dan kenaikan yield SBN tidak terlalu tajam. Ia juga menilai pemerintah dapat menggunakan strategi debt switch, yaitu menukar obligasi dengan imbal hasil mahal ke obligasi dengan yield lebih rendah. “Kalau itu dilakukan, kita harapkan yield surat utang negara secara umum kenaikannya tidak drastis, malah syukur-syukur stabil,” pungkasnya.
Tabel 1. Proyeksi Maybank: Capital Outflow RI Kuartal II-2026
| Indikator | Detail |
| Perkiraan capital outflow | US$ 4,2 miliar |
| Periode | Kuartal II-2026 |
| Pemicu utama | Musim dividen + kebutuhan valas haji + pembayaran utang jatuh tempo |
Tabel 2. Dampak Utama Capital Outflow ke Pasar Keuangan
| Instrumen/Pasar | Dampak Menurut Maybank |
| Rupiah | Berpotensi tertekan (jaga level Rp 17.000/US$) |
| Yield SBN | Ruang penurunan terbatas |
| Pasar saham | Rawan tekanan akibat outflow asing |
Tabel 3. Skenario Maybank untuk Pasar Keuangan 2026
| Skenario | Kondisi | Yield SBN 10 Tahun | Proyeksi Rupiah |
| Risiko global berlanjut | Konflik global berlanjut | 6,9% – 7,1% | ~ Rp 17.300/US$ |
| Tekanan mereda | Tekanan mereda pada Q3 | 5,9% – 6,3% | (tidak disebutkan) |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News