KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, pada kuartal II 2025, kontribusi industri makanan dan minuman mencapai 41% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas. Dan di periode sama, terhadap PDB nasional berkontribusi 6,94%. Salah satu kontributor industri makanan dan minuman adalah sektor industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sektor ini menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung, dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dari lebih dari 700 pabrik di seluruh Indonesia. Adapun tingkat utilisasi di atas 70%. Kini industri AMDK sedang menghadapi ujian serius. Dari sisi hulu, dinamika geopolitik global—termasuk ketegangan di kawasan Timur Tenga, mendorong kenaikan harga minyak dan gas. Dampaknya merembet cepat ke industri petrokimia, terutama bahan baku plastik yang menjadi komponen utama kemasan AMDK. Kenaikan biaya produksi menjadi tak terelakkan, menekan struktur biaya secara signifikan.
Tekanan Ganda Mengintai Industri Air Minum Dalam Kemasan, Simak Efeknya ke Konsumen
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, pada kuartal II 2025, kontribusi industri makanan dan minuman mencapai 41% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas. Dan di periode sama, terhadap PDB nasional berkontribusi 6,94%. Salah satu kontributor industri makanan dan minuman adalah sektor industri air minum dalam kemasan (AMDK). Sektor ini menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung, dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dari lebih dari 700 pabrik di seluruh Indonesia. Adapun tingkat utilisasi di atas 70%. Kini industri AMDK sedang menghadapi ujian serius. Dari sisi hulu, dinamika geopolitik global—termasuk ketegangan di kawasan Timur Tenga, mendorong kenaikan harga minyak dan gas. Dampaknya merembet cepat ke industri petrokimia, terutama bahan baku plastik yang menjadi komponen utama kemasan AMDK. Kenaikan biaya produksi menjadi tak terelakkan, menekan struktur biaya secara signifikan.