Tekanan Geopolitik Timur Tengah Picu Koreksi Harga Kripto



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Kondisi ini turut menyeret kinerja aset kripto utama yang mengalami pelemahan dalam sepekan terakhir, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap instrumen berisiko.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Jumat (3/4/2026) pukul 14.48 WIB, mayoritas aset kripto mencatatkan penurunan secara mingguan. Bitcoin terkoreksi sebesar 2,19%, Ethereum melemah tipis 0,03%, sementara Solana mencatat penurunan paling dalam hingga 7% dalam periode yang sama.

Analis Reku, Andri Fauzan, menilai bahwa pelemahan harga kripto dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang belum mereda. Kondisi tersebut mendorong investor untuk mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman.


Selain faktor geopolitik, tekanan juga berasal dari sentimen makroekonomi global. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish serta penguatan dolar Amerika Serikat turut membebani pergerakan aset kripto.

Baca Juga: Persaingan Bursa Kripto di Indonesia Memanas, ICEx Bursa Kripto Kedua Resmi Meluncur

"Faktor lainnya penjualan besar-besaran dari miner dan institusi sehingga pasar kripto secara keseluruhan masih berada dalam fase konsolidasi yang berat," ujar Andri pada Kamis (3/4).

Di sisi lain, analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat adanya korelasi yang cukup kuat antara pergerakan harga Bitcoin dengan indeks saham S&P 500 serta emas. Hal ini mengindikasikan bahwa dinamika pasar kripto saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen global, bukan semata faktor internal industri.

Untuk Ethereum, tekanan justru lebih banyak berasal dari sisi institusional. Kembalinya arus keluar dana (outflow) dari produk ETF spot Ethereum menunjukkan bahwa minat investor besar masih belum stabil di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

"Ketika institusi mulai menarik dana, likuiditas pasar menjadi lebih tipis dan harga menjadi lebih mudah tertekan, terutama di tengah sentimen pasar yang sedang negatif," kata Fyqieh.

Baca Juga: OJK Optimistis Status Pasar Modal RI Tak Turun ke Frontier Market, Ini Alasannya

Sementara itu, Solana menghadapi tekanan tambahan dari faktor internal dalam ekosistemnya. Insiden peretasan besar yang terjadi pada protokol DeFi Drift, dengan nilai kerugian mencapai ratusan juta dolar, turut menggerus kepercayaan investor.

"Insiden ini memicu penarikan likuiditas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan ekosistem Solana, sehingga memperburuk penurunan harga di tengah kondisi pasar yang memang sedang lemah," ujar Fyqieh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News