KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak pasar global sepanjang Maret 2026 memicu pergeseran strategi investasi memasuki April. Tekanan likuiditas, penguatan dolar AS, serta eskalasi geopolitik mendorong investor cenderung menghindari risiko (
risk off), tercermin dari derasnya aliran dana keluar (
capital outflow) dari pasar domestik. Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku Melvin Mumpuni menilai, kondisi ini justru membuka peluang bagi investor untuk menata ulang portofolio secara lebih strategis di bulan April. “Pergerakan di bulan Maret menunjukkan adanya anomali dan pergeseran
risk appetite (minat risiko) dari para investor global maupun domestik,” ujar Melvin kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: IHSG Berpotensi Melemah pada Senin (6/4/2026), Saham-Saham Ini Bisa Ditimbang Ia mencatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam hingga 14,4% secara bulanan (MoM), diiringi pelemahan pasar obligasi dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sebesar 1,5% MoM. Kondisi ini mengindikasikan terjadinya
capital outflow dari
emerging markets, termasuk Indonesia. Tekanan jual asing terlihat signifikan, terutama di akhir bulan. Dalam sepekan terakhir Maret saja, investor asing membukukan
net sell sekitar Rp 22 triliun. Bahkan, pada 26 Maret 2026, aksi jual bersih mencapai Rp 20,71 triliun dalam sehari. Sementara pada penutupan akhir bulan,
net sell masih berlanjut sebesar Rp 1,28 triliun. Menurut Melvin, sentimen utama berasal dari pengetatan likuiditas global, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (
higher for longer), serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong investor beralih ke aset likuid seperti dolar AS.
Strategi Investasi April
Memasuki April, Melvin melihat peluang mulai terbuka, khususnya di pasar saham dan obligasi. Ia menilai, koreksi IHSG yang mencapai sekitar 15% secara
year to date (YtD) membuat valuasi saham domestik menjadi relatif murah (
undervalued). Kondisi ini dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi bertahap, terutama pada saham berfundamental kuat. “Bagi investor jangka panjang, ini adalah peluang emas untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat dengan harga murah,” jelas dia.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Lanjut Melemah pada Senin (6/4), Cermati Sentimen yang Membayangi Di sisi lain, instrumen obligasi juga dinilai menarik. Penurunan harga obligasi telah mendorong kenaikan yield, sehingga investor dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengunci imbal hasil tinggi, khususnya pada Surat Berharga Negara (SBN), sebelum tren penurunan suku bunga dimulai. Sementara itu, untuk aset berbasis dolar AS, Melvin mengingatkan agar investor tidak terlalu agresif. Meski dolar masih menguat, ruang kenaikannya dinilai mulai terbatas. “Menyimpan sebagian kecil dolar sebagai lindung nilai boleh, tetapi tidak disarankan membeli di harga puncak,” katanya. Melvin juga menyoroti anomali pergerakan emas dan kripto di Maret. Harga emas terkoreksi sekitar 11,5% MoM, sejalan dengan penguatan dolar AS. Selain itu, tekanan pasar yang tinggi mendorong investor institusi melepas aset yang sebelumnya mencatatkan keuntungan, termasuk emas, untuk menutup kerugian di instrumen lain. Di sisi lain, aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum mencatatkan
rebound masing-masing 4,3% dan 10,2% MoM. Namun, Melvin menilai kenaikan ini lebih bersifat teknikal (
relief rally), mengingat secara YtD kripto masih terkoreksi dalam. “Kripto masih sangat bergantung pada likuiditas global dan kebijakan suku bunga. Volatilitasnya tetap tinggi,” ungkap dia.
Baca Juga: Geopolitik Memanas, Transaksi Kripto Kuartal I 2026 Menurun Di tengah ketidakpastian pasar, Melvin menekankan pentingnya disiplin dalam mengelola portofolio, termasuk menjaga arus kas (cash flow) dan melakukan rebalancing secara berkala. Secara psikologis, ia mengakui investor rentan mengalami
loss aversion saat pasar bergejolak. Namun, keputusan investasi sebaiknya tetap berbasis strategi jangka panjang, bukan emosi. Adapun alokasi portofolio yang disarankan Melvin untuk April disesuaikan dengan profil risiko investor.
Untuk investor dengan profil konservatif, sekitar 40% bisa ditaruh di instrumen likuid seperti tabungan, deposito, reksadana pasar uang, serta emas fisik maupun digital. Kemudian 40% ditempatkan pada instrumen berpendapatan tetap (
fixed income), dan sisanya dialokasikan ke saham berfundamental kuat seperti blue chip atau saham dengan dividen. Sementara itu, bagi investor dengan profil moderat, alokasi portofolio dapat dibagi menjadi 25% pada aset likuid, 40% pada instrumen pendapatan tetap, dan 35% pada saham bertipe
value stock atau saham dividen. Adapun untuk investor agresif, Melvin merekomendasikan sekitar 50% ditempatkan pada saham value dan dividen, 25% pada instrumen pendapatan tetap, serta 20% pada aset likuid. Sisanya sekitar 5% dapat dialokasikan ke aset kripto sebagai instrumen berisiko tinggi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News