Tekanan Global Meningkat, Kurs Rupiah Melemah, Simak Strategi Bank Woori Saudara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika geopolitik global kembali menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan pasar keuangan dunia. Ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) serta perang di Timur Tengah memicu volatilitas di berbagai kelas aset. Mula saham, komoditas, hingga nilai tukar mata uang negara berkembang.

Kombinasi kebijakan perdagangan agresif dan ketegangan geopolitik memperkuat dolar AS dan meningkatkan volatilitas nilai tukar di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah mengalami fluktuasi yang lebih tajam seiring pergerakan arus modal global yang sensitif terhadap sentimen risiko.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi  menilai, tekanan eksternal pada 2026 memiliki karakter berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Saat kebijakan perdagangan dan risiko geopolitik berjalan bersamaan, volatilitas pasar cenderung meningkat.


"Negara berkembang perlu memperkuat stabilitas domestik agar tidak terlalu rentan terhadap guncangan eksternal,” ujar dia dalam keterangan resmi, Selasa (3/3). 

Baca Juga: Bank Korea Kian Agresif di Indonesia, Woori Saudara Pimpin Modal Terbesar

Kondisi ini menuntut industri perbankan nasional untuk menerapkan strategi yang lebih adaptif dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Volatilitas rupiah berpotensi mempengaruhi biaya dana, kualitas aset, serta permintaan kredit dari sektor usaha yang terdampak fluktuasi kurs dan harga komoditas.

Industri perbankan perlu menjaga likuiditas yang memadai, memperkuat pencadangan risiko, serta meningkatkan selektivitas dalam ekspansi kredit.

"Stabilitas sistem keuangan menjadi prioritas utama agar kepercayaan nasabah tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar global,” lanjut dia. 

Tahun 2026 akan menjadi periode uji daya tahan industri keuangan. “Bank dengan struktur likuiditas kuat dan manajemen risiko yang teruji akan relatif lebih resilien menghadapi volatilitas nilai tukar dan tekanan eksternal,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Bank Woori Saudara (BWS) memperkuat strategi bisnis 2026 dengan fokus pada penguatan manajemen risiko, penjagaan likuiditas, serta penerapan selektivitas penyaluran kredit. Langkah ini memastikan stabilitas kinerja dan memperkuat daya tahan bisnis di tengah dinamika pasar.

“BWS memiliki karakter yang unik karena memiliki dukungan likuiditas dari induk usaha Woori Bank Korea. Likuiditas ini cukup untuk menopang ekspansi kredit BWS,” terang Leo lagi. 

Hingga akhir kuartal III-2025, dana pihak ketiga BWS mencapai  Rp 32,42 triliun, dengan porsi terbesar dari deposito. BWS juga memiliki dukungan likuiditas dari bank lain yang tercatat sebagai pembiayaan yang diterima senilai Rp 12 triliun.

Dia memprediks,i perbankan termasuk BWS akan menyalurkan kredit pada sektor-sektor dengan fundamental kuat dan prospek yang tetap tumbuh meskipun menghadapi tekanan eksternal. 

“Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kualitas aset sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News