Tekanan IHSG Diproyeksi Berlanjut, Cek Saham Rekomendasi Analis di Awal November



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berlanjut pada November 2026.

Selain aksi jual investor asing dan pelemahan rupiah, pasar saham domestik juga menghadapi ketidakpastian dari perubahan metodologi indeks serta hasil review Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Tekanan tersebut datang setelah IHSG mengalami koreksi tajam. Dalam sebulan terakhir, IHSG merosot 16,23%, sementara sejak awal tahun penurunannya mencapai 41,25%.


Pada periode yang sama, investor asing membukukan net sell Rp 97,92 triliun secara year to date (ytd).

Baca Juga: Menakar Pergerakan IHSG dan Saham Rekomendasi Analis Sepanjang November 2026

Koreksi pasar saham juga berdampak besar terhadap kapitalisasi pasar. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, market cap BEI tercatat sebesar Rp 8.862 triliun pada akhir Oktober 2026.

Nilai tersebut telah tergerus hampir separuh dibandingkan posisi awal tahun. Sektor barang baku dan properti menjadi sektor dengan penurunan kapitalisasi pasar terdalam.

Co-Founder & Director Alphagate Capital sekaligus Former Chief Indonesia Strategist JPMorgan, Henry Wibowo memperkirakan, volatilitas IHSG masih akan tinggi hingga Mei-Juni 2027.

Periode tersebut menjadi perhatian pasar karena MSCI akan menentukan keputusan final terkait status pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil review pada pertengahan November 2026. Pengumuman ini merupakan agenda terpisah dari proses pertimbangan reklasifikasi status pasar saham Indonesia.

Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,08 Triliun Saat IHSG Ambruk 3,48%, Cek Saham yang Banyak Dilepas

Ketidakpastian tersebut berpotensi membuat investor institusi asing mengambil posisi wait and see dan menunda penambahan investasi di pasar saham domestik.

Tekanan IHSG Berlanjut

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand juga memperkirakan pergerakan IHSG pada November akan sangat volatil. Saat ini, IHSG kembali menguji level psikologis 5.000 akibat tekanan arus dana asing keluar (outflow) dan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.185 per dolar AS.

Volatilitas juga berpotensi meningkat seiring penerapan kebijakan BEI mulai 2 November 2026. Salah satunya adalah pengecualian sekitar 80 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari perhitungan IHSG. Saham-saham tersebut memiliki bobot sekitar 18% terhadap indeks.

Selain itu, tidak adanya saham yang dapat ditransaksikan melalui mekanisme short selling selama November juga menjadi faktor yang perlu dicermati pasar.

Meski demikian, Abida menilai kebijakan tersebut dapat memberikan dampak positif dalam jangka menengah karena berpotensi meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,80% ke 5.057, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing di Akhir Pekan Ini

Sementara itu, CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo memperkirakan IHSG memiliki tiga kemungkinan skenario pergerakan sepanjang November.

Dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang bergerak di kisaran 5.400-5.600. Skenario ini dapat terwujud apabila rupiah stabil, aliran dana asing kembali masuk, dan reformasi pasar modal mendapat respons positif dari investor.

Pada skenario dasar, IHSG diperkirakan bergerak di rentang 4.950-5.400. Namun, jika tekanan jual berlanjut, indeks berpotensi kembali melemah ke kisaran 4.700-4.950.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai, ketidakpastian tata kelola pasar modal yang belum terselesaikan masih berpotensi menekan kapitalisasi pasar dan valuasi saham.

Tekanan tersebut terutama berisiko membebani saham-saham konglomerasi, energi dan pertambangan, infrastruktur, teknologi, serta properti. Risiko lebih besar berpotensi dihadapi emiten dengan porsi saham beredar di publik (free float) rendah, serta perusahaan yang menjadi perhatian terkait transparansi kepemilikan dan pembentukan harga saham.

Baca Juga: Window Dressing Akhir 2026 Berpotensi Jadi Rebound Sesaat, Cek Rekomendasi Analis

Di tengah tekanan pasar, kondisi fundamental sejumlah emiten masih menunjukkan kinerja positif. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, beberapa perusahaan masih mampu membukukan pertumbuhan laba dua digit pada kuartal III 2026.

Sejumlah emiten tersebut antara lain Bank Mandiri (BMRI) dengan pertumbuhan laba 20,7% secara tahunan, Aneka Tambang (ANTM) 47,9%, Indosat (ISAT) 37,2%, Mitra Adiperkasa (MAPI) 25,1%, dan AKR Corporindo (AKRA) 34%.

"Sentimen pasar bisa berubah cepat, tetapi kualitas fundamental akan menentukan nilai investasi dalam jangka panjang," tutur Liza.

Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, Hendra menyarankan investor untuk mencermati peluang speculative buy pada saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Baca Juga: Saham Bank Anjlok hingga 59% pada 2026, Apakah Bisa Pulih? Cek Rekomendasi Analis

Ia memasang target harga masing-masing saham tersebut di level Rp 3.500 per saham untuk PTBA, Rp 2.600 per saham untuk ADRO, dan Rp 1.550 per saham untuk MEDC.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News