Tekanan Inflasi April Mereda, Tapi Rupiah dan Biaya Energi Jadi Ancaman Inflasi Mei



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2026 melandai sebesar 0,13% secara bulanan dan 2,42% secara tahunan. Ini menunjukkan tekanan harga pasca-Lebaran telah mereda. 

Meski demikian, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengingatkan tren inflasi ke depan berpotensi kembali meningkat. Secara musiman, inflasi memang cenderung melandai setelah Lebaran, namun kondisi saat ini menunjukkan adanya tekanan baru dari sisi eksternal.

“Walau setelah Lebaran biasanya inflasi melandai, tapi perkiraan inflasi Mei akan naik,” katanya kepada Kontan, Senin (4/5/2026).


Baca Juga: Prabowo Minta Kampus Jadi Asisten Pemda Selesaikan Masalah Sampah hingga Tata Kota

Ia menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini berpotensi mendorong imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.

Selain itu, kenaikan harga energi juga menjadi faktor risiko. Beberapa bahan baku terkait minyak dan gas seperti nafta, urea, dan amonia disebut mengalami kenaikan harga dan keterbatasan pasokan di pasar global.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi juga turut menambah tekanan, terutama terhadap biaya produksi dan distribusi.

Dengan kondisi tersebut, David menilai meskipun inflasi April terlihat terkendali, risiko kenaikan harga masih perlu diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan, terutama dari faktor eksternal seperti nilai tukar dan harga energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News