KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan jual investor asing kembali terasa di pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada akhir Januari 2026. Tak hanya di pasar saham, nonresiden juga mencatatkan jual neto sebesar Rp 2,77 triliun di pasar SBN selama periode 26–29 Januari 2026. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, tekanan jual asing tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari dalam negeri, investor mencermati meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang konsisten, sehingga mendorong pengurangan eksposur pada aset berdenominasi rupiah, termasuk SBN. “Ini sejalan dengan keputusan Moody’s yang mempertahankan peringkat Indonesia di Baa2, namun menurunkan prospeknya menjadi negatif. Moody’s menilai ada risiko penurunan kepastian kebijakan yang, jika berlanjut, dapat mengganggu kinerja ekonomi,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).
Baca Juga: IHSG Bergejolak: Emas, SBN Ritel, dan Reksadana Bisa Jadi Pilihan Aset Safe Haven Moody’s juga menekankan bahwa berkurangnya kepastian dan koherensi dalam proses kebijakan berpotensi mengikis kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas makro. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan gejolak pasar sekaligus biaya utang pemerintah. Beberapa sumber ketidakpastian yang disorot antara lain wacana perubahan kerangka fiskal, termasuk batas defisit, serta dinamika tata kelola otoritas moneter. Terkait prospek arus keluar dana asing ke depannya, Josua memperkirakan tekanan masih bisa terasa pada Februari hingga kuartal I 2026. Namun, capital outflow tersebut cenderung bersifat fluktuatif, bukan terus membesar secara berkelanjutan. “Ruang arus keluar besar relatif terbatas karena kepemilikan asing di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan saat ini hanya sekitar Rp 882,03 triliun atau 13,21% per 3 Februari 2026. Selain itu, penyangga permintaan domestik masih kuat,” jelasnya. Ia menambahkan, minat investor di pasar perdana juga masih solid. Sepanjang 2026, rata-rata penawaran masuk pada lelang SBN mencapai Rp 68,86 triliun dengan penetapan Rp 27,20 triliun. Khusus untuk SUN, penawaran masuk rata-rata tercatat Rp 83,48 triliun dengan penetapan Rp 37,33 triliun. “Selama kepercayaan terhadap disiplin fiskal dan stabilitas nilai tukar terjaga, tekanan jual asing relatif dapat diserap pasar. Namun, tekanan bisa membesar bila sentimen global memburuk atau ketidakpastian kebijakan domestik meningkat,” imbuh Josua.
Baca Juga: Tak Hanya SBN Ritel, Sekitar 40% Investor Individu Kini Masuk ke SUN FR Ke depan, prospek SBN pada 2026 dinilai masih cukup menarik bagi investor global maupun domestik. Imbal hasil yang kompetitif serta fondasi makro yang relatif solid menjadi daya tarik utama. Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5% dengan defisit anggaran di bawah 3% PDB dalam jangka dekat hingga menengah. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait persepsi ketidakpastian kebijakan dan besarnya kebutuhan pembiayaan. Pemerintah diproyeksikan mencatat defisit anggaran sekitar 2,68% PDB pada 2026, dengan pembiayaan yang masih bertumpu pada penerbitan obligasi, sehingga berpotensi menahan penurunan imbal hasil. Dengan kondisi tersebut, Josua memproyeksikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) masih bergerak di level relatif tinggi sepanjang 2026. Per 3 Februari 2026, imbal hasil SUN acuan berada di level 5,67% untuk tenor 5 tahun dan 6,32% untuk tenor 10 tahun. Josua memperkirakan imbal hasil SUN tenor 10 tahun akan berada di kisaran 6,0%–6,8% sepanjang 2026.
Yield bisa turun mendekati 6,2% jika kepastian kebijakan membaik dan gejolak global mereda. Sebaliknya, yield berpeluang naik di atas 6,5% bila ketidakpastian domestik berlanjut dan pasar meminta tambahan premi risiko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News