KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sempat menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan minat investor asing di saham perbankan, kondisi kini kembali berbalik. Pasalnya, investor asing kembali melakukan aksi jual terhadap saham perbankan, terutama di saham bank milik negara atau Himbara. Fenomena tersebut setidaknya kembali terlihat dalam sepekan terakhir. Di mana, hanya PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) yang masih mencatatkan
net foreign buy sekitar Rp 241,79 miliar. Sementara itu, tiga Himbara lainnya seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (
BBTN) kompak mencatatkan
net foreign sell di periode yang sama. Baca Juga: Layanan Cabang Berangsur Normal, 72% BSI Regional Aceh Sudah Beroperasi BBRI menjadi yang paling besar dalam pencatatan
net foreign sell dalam sepekan terakhir mencapai Rp 3,06 triliun. Di perdagangan Selasa (2/12) saja, asing kembali mencatatkan net sell senilai Rp 26,85 miliar. Selanjutnya, ada BBNI dengan catatan
net foreign sell dalam sepekan terakhir sekitar Rp 35,87 miliar. Baru setelah itu BBTN yang memiliki catatan net sell lebih kecil yaitu Rp 4,58 miliar. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengungkapkan bahwa sejatinya tekanan jual investor asing di saham-saham himbara sudah terlihat mereda. Setidaknya jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di awal-awal tahun 2025 ini. “Bulan lalu saja asing
top net buy di BMRI, tapi top net sell di BBRI,” ujar Wafi kepada KONTAN, Selasa (2/12/2025). Untuk yang terjadi saat ini, Wafi melihat ada kombinasi sentimen yang membuat investor asing melakukan
wait and see. Sentimen-sentimen tersebut antara lain soal timing penurunan Fed Rate, margin yang belum pulih karena cost of fund masih mahal serta kredit belum pulih, hingga penugasan pemerintah. Menurut pandangan Wafi, saat ini investor asing sedang menanti hasil kinerja Himbara ini setidaknya sampai akhir 2025. Ditambah penantian terkait target final dari bank-bank ini untuk tahun 2026. “Selama
guidance belum solid, foreign cenderung trading jangka pendek,” ujarnya. Baca Juga: Riduan dan Henry Panjaitan Lolos Kelayakan, Siap Pimpinan Bank Mandiri Meski demikian, Wafi menilai beberapa saham bank sudah mulai kelihatan stabil. Dalam hal ini, ia menyoroti BBRI karena memiliki dana murah yang kuat dan kualitas kredit UMKM stabil. Serta BBNI yang dinilai punya valuasi paling murah dan prospek NIM paling cepat pulih. “
Overall masih menarik. BBRI di Rp 5.000. BBNI di Rp 5.600 dan BMRI di Rp 5.800,” ungkapmya. Sependapat, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus melihat investor asing memang masih dalam posisi
wait and see. Di mana, belum ada alasan yang cukup kuat bagi mereka untuk kembali masuk ke saham perbankan. “Situasi dan kondisi secara kinerja perbankan juga tidak mendukung dan memberikan alasan yang kuat,” ujar Nico. Apalagi, Nico menyoroti sektor-sektor lain yang juga justru mencatatkan kinerja positif secara fundamental. Alhasil, pergerakan sahamnya mengalami kenaikan secara signifikan dan ini menandakan adanya perpindahan
appetite investor asing ke sektor yang menguntungkan. Menurut Nico, hal ini akan menjadi menarik apabila investor ritel hendak memanjangkan durasi investasi. Di mana, ia melihat hingga kuartal 1/2026, kemungkinan pergerakan saham bank Himbara masih akan terbatas. “Apabila investor ada yang durasinya jangka panjang, akumulasi adalah sebuah kesempatan,” ujar Nico.
Sedikit berbeda, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya berpandangan investor asing saat ini lebih khawatir ke risiko volatilitas dan pelemahan rupiah. Alasan tersebut bisa menyebabkan imbal hasil investor asing dalam mata uang asing bisa berkurang. Untuk Himbara, Andrey memprediksi pertumbuhan kinerjanya akan positif di tahun depan. Meskipun, sampai saat ini mayoritas himbara mencatatkan penurunan laba jika dibandingkan tahun lalu.
“Seharusnya tahun depan kondisi akan lebih baik, terutama ketika rupiah sudah mulai stabil dan menguat,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News