Tekanan Margin Pangkas Nafsu China Borong Minyak Iran



KONTAN.CO.ID - Impor minyak mentah Iran oleh kilang independen China mulai menunjukkan tanda perlambatan, meskipun aliran pasokan masih berlangsung di tengah tekanan baru dari Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini dipicu oleh memburuknya margin pengolahan domestik yang menekan daya beli kilang.

Melansir Reuters Rabu (29/4/2026), para pedagang menyebutkan, kilang independen yang dikenal sebagai “teapot” tetap menjadi pembeli utama minyak Iran, menyerap sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut.


Baca Juga: Ukraina Perluas Jangkauan Serangan ke Rusia, Targetkan Infrastruktur Energi

Pada Maret lalu, impor bahkan sempat mencetak rekor hingga 1,8 juta barel per hari, menurut data Vortexa Analytics.

Namun, kondisi kini berubah. Margin pengolahan di dalam negeri diperkirakan turun hingga minus 530 yuan per metrik ton, level terendah dalam satu tahun terakhir, menurut konsultan China SCI.

Hal ini terjadi karena harga bahan bakar yang diatur pemerintah tidak mampu mengikuti lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Iran.

Selain tekanan margin, ancaman yang lebih besar datang dari kebijakan AS yang memberlakukan blokade terhadap pengiriman minyak Iran sejak 13 April.

Jika kebijakan ini berlanjut, dampaknya diperkirakan akan mulai terasa pada pasokan minyak ke China dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga: Jerman Setujui Kerangka Anggaran 2027, Fokus Perkuat Infrastruktur dan Pertahanan

Meski demikian, pemerintah China tetap berupaya menjaga pasokan energi. Awal bulan ini, Beijing meminta kilang independen untuk mempertahankan tingkat produksi, bahkan mengeluarkan kuota impor minyak tambahan. Kebijakan ini secara tidak langsung mendorong pembelian minyak dari Iran dan Rusia.

Di sisi lain, Washington juga meningkatkan tekanan dengan menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical (Dalian), salah satu kilang independen terbesar di China, atas tuduhan membeli minyak Iran yang dibantah oleh perusahaan tersebut.

Kendati transaksi minyak Iran masih berlangsung, sejumlah pedagang mengatakan aktivitas perdagangan terbaru cenderung terbatas.

Harga minyak Iran jenis Light bahkan kini diperdagangkan setara atau sedikit di atas harga acuan ICE Brent, berbalik dari sebelumnya yang berada pada posisi diskon. Kondisi ini turut menggerus daya tariknya di mata pembeli.

Namun, arus pasokan ke China masih terus berjalan. Provinsi Shandong pusat kilang independent tetap menerima pengiriman minyak Iran.

Baca Juga: Saham Robinhood Anjlok 10%, Lesunya Kripto Tekan Volume Transaksi

Beberapa tanker tercatat membongkar muatan di pelabuhan Dongying dan Qingdao dalam beberapa pekan terakhir.

Pelacakan pengiriman minyak Iran sendiri semakin sulit dilakukan karena banyak kapal menggunakan identitas palsu untuk menyamarkan asal dan rute perjalanan.

Selain itu, minyak Iran yang masuk ke China kerap diberi label sebagai minyak dari Malaysia atau Indonesia dalam proses perdagangannya.

Data Kpler memperkirakan sekitar 155 juta barel minyak Iran saat ini masih berada dalam perjalanan di luar zona blokade AS, sementara Vortexa memperkirakan sekitar 140 juta barel.

Volume tersebut dinilai cukup untuk memenuhi lebih dari dua bulan kebutuhan impor China pada tingkat saat ini.

Ke depan, dinamika geopolitik dan tekanan ekonomi diperkirakan akan terus mempengaruhi pola perdagangan minyak antara Iran dan China, terutama jika blokade AS tetap diberlakukan dan margin kilang tidak kunjung membaik.