KONTAN.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan tajam pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah anjlok 5,4% ke level terendah sejak Oktober 2020. Kekhawatiran investor terhadap ancaman penurunan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu aksi jual lanjutan di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar. Mengutip
Reuters, pelemahan ini memperpanjang tekanan setelah IHSG merosot hampir 12% pada perdagangan Jumat (16/10/2026), yang menjadi salah satu penurunan harian terburuk dalam beberapa dekade.
Baca Juga: IHSG Anjlok 14,91% Sepekan Lalu, Risiko Arus Keluar Asing Membayangi Pasar Saham Pada Jumat lalu, MSCI secara mengejutkan menyatakan akan menempatkan Indonesia dalam proses menuju klasifikasi
standalone market atau pasar mandiri. Langkah ini lebih jauh dibandingkan ancaman sebelumnya berupa penurunan klasifikasi menjadi frontier market atau pasar perbatasan. Apabila perubahan status tersebut diterapkan, saham-saham Indonesia berpotensi dikeluarkan dari indeks yang menjadi acuan dana investasi global. Kondisi ini dapat memicu arus modal keluar dalam jumlah besar karena investor yang mengikuti indeks tersebut perlu menyesuaikan portofolionya. Merespons gejolak pasar, operator bursa memangkas batas penurunan harga saham harian menjadi setengah dari ketentuan sebelumnya. Kebijakan tersebut diambil untuk meredam tekanan jual yang telah memicu penurunan tajam di pasar saham domestik.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Dekati US$ 110 per Barel, Ini Prospek Saham MEDC Chief Executive Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, otoritas juga akan bertemu dengan MSCI pada Senin untuk meminta penjelasan lebih lanjut mengenai rencana perubahan klasifikasi tersebut. Di pasar valuta asing, rupiah melemah ke level Rp 18.040 per dollar AS menjelang rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) pada pekan ini. Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena tekanan lebih lanjut berpotensi meningkatkan risiko terhadap stabilitas nilai tukar dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga. Ekonom Asia Nomura Si Ying Toh memperkirakan, BI berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6% menyusul pelemahan rupiah belakangan ini. Kenaikan suku bunga dapat menjadi salah satu opsi untuk menopang nilai tukar, tetapi juga berpotensi menambah biaya pinjaman dan menekan aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Turun 1,80%, Simak Level Support dan Resistance Karena itu, arah kebijakan BI akan menjadi perhatian investor di tengah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia. Gejolak juga melanda sejumlah bursa Asia lainnya, meski pergerakannya bervariasi. Indeks saham Malaysia turun hampir 1% ke level terendah dalam lebih dari setahun setelah pertumbuhan ekonomi negara tersebut melambat menjadi 5,3% pada kuartal III-2026, dari 6% pada kuartal sebelumnya. Bursa Seoul sempat dibuka merosot 3,2%, tetapi berbalik menguat 1,8% pada penutupan setelah investor berburu saham yang harganya turun. Saham Singapura naik tipis 0,2%, sementara indeks acuan Filipina sempat menguat hingga 0,8% dan mencapai level tertinggi dalam tiga pekan. Sebaliknya, indeks saham Taiwan ditutup turun 0,6% setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak pertengahan September. Tekanan muncul di tengah kekhawatiran investor mengenai valuasi saham terkait kecerdasan buatan (AI) yang dinilai rentan terhadap kenaikan biaya pendanaan. Di pasar mata uang Asia, dolar Taiwan mencatat pelemahan terbesar di kawasan dengan turun 0,7% ke level terendah sejak April 2025.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,11% ke Rp 18.046 per Dolar AS pada Senin (19/10) Bank sentral Taiwan mengaitkan pelemahan mata uang tersebut dengan gejolak pasar saham global, penjualan bersih saham domestik oleh investor asing, serta repatriasi dana, termasuk dividen.
Sementara itu, won Korea Selatan menguat ke level 1.327,02 per dolar AS, posisi terkuat sejak awal Oktober 2024. Rupee India juga melanjutkan penguatan untuk sesi keenam berturut-turut ke level 94,83 per dollar AS. Selain BI, bank sentral Korea Selatan dan Filipina juga dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada paruh kedua pekan ini. Bank sentral Korea Selatan diperkirakan mempertahankan suku bunga, sedangkan bank sentral Filipina diperkirakan kembali memperketat kebijakan moneternya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News