Tekanan Pasar Keuangan Meningkat, Atur Ulang Portofolio Aset Mesti Tepat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76.

Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya perlu meninjau kembali komposisi portofolio asetnya.

Chief Investment Officer KIM Indonesia, Barkah Supriadi mengatakan meracik ulang portofolio sangat penting dilakukan sebagai langkah taktis untuk mengendalikan risiko, sekaligus membuka peluang untuk menambah aset-aset fundamental kuat yang secara valuasi sudah undervalued.


Baca Juga: Pasar Keuangan Bergejolak, Ini Rekomendasi Komposisi Investasi

"Strategi alokasi aset taktis, atau biasa disebut Tactical Asset Allocation (TAA) menjadi sangat ideal untuk kondisi market yang sangat fluktuatif seperti saat ini," kata Barkah kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Sebagai contoh, seorang investor agresif yang biasanya menempatkan 60% di saham, 20% di reksadana pendapatan tetap (RDPT) dan 20% di reksadana pasar uang (RDPU) dan/atau kas, dapat memitigasi risiko dengan mengurangi porsi saham dan menggesernya ke aset defensif seperti RDPT dan RDPU ketika melihat potensi koreksi lanjutan di pasar saham. 

Langkah adaptif ini efektif meminimalisir penurunan kinerja portofolio secara keseluruhan saat pasar saham sedang tertekan, sekaligus juga memastikan investor masih memiliki sisa aset likuid di RDPU yang siap digunakan untuk melakukan average down saat momentum pembalikan arah tiba.

Nah, di tengah situasi pasar yang cenderung risk-off, beralih ke instrumen dengan tingkat risiko rendah hingga moderate merupakan pilihan yang bijak untuk menjaga stabilitas portofolio. 

Pilihan seperti RDPU dengan target imbal hasil 4,5%-5% per tahun dan RDPT dengan target 6-7% per tahun masih sangat memungkinkan. 

"Kedua instrumen ini menawarkan peluang imbal hasil yang lebih realistis dan terukur dengan risiko fluktuasi yang cenderung minim," kata Barkah kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Investor juga perlu mencermati sejumlah sentimen ke depannya. Dari sisi global, risiko ketegangan geopolitik yang masih tinggi kini diperparah oleh tekanan inflasi yang mulai meningkat, seperti data terbaru inflasi Amerika Serikat (AS) yang sudah terlihat meningkat signifikan. 

Kondisi ini memperbesar peluang Bank Sentral AS untuk menjaga suku bunga acuannya dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal tersebut membuat yield obligasi di AS cenderung meningkat, begitu juga dolar AS turut menguat, yang pada akhirnya memicu fenomena capital flight atau aliran modal keluar dari negara Emerging Markets, termasuk Indonesia, menuju AS, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Secara terpisah, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi portofolio dengan menempatkan sebagian aset dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS). 

Instrumen yang dapat dipilih antara lain uang tunai (bank notes), reksa dana berbasis dolar AS, maupun obligasi mata uang asing, dengan porsi investasi yang disesuaikan dengan profil risiko dan tingkat kenyamanan masing-masing investor.

"Semua instrumen bisa menjadi pilihan, tergantung risk profile masing-masing. Saat ini tidak ada proyeksi return," ujar Rudiyanto kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Selain melakukan diversifikasi, Rudiyanto juga mengingatkan investor untuk terus memantau arah kebijakan serta komunikasi yang disampaikan pemerintah. Menurutnya, respons pemerintah terhadap kondisi ekonomi saat ini akan menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen pasar.

"Apakah pemerintah bisa sadar dan berubah atau tetap seperti ini saja. Pemerintah perlu kelola fiskal dengan baik, jaga komunikasi publik bila perlu dan jangan pidato dulu untuk beberapa waktu," tambahnya.

Baca Juga: BCA Realisasikan Dividen Interim Tiga Kali Setahun, Termin Pertama Rp20 per Saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News