KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko gali lubang tutup lubang dalam pengelolaan utang masih membayangi APBN 2026. Hal ini seiring dengan keseimbangan primer yang masih tinggi di tengah tekanan penerimaan negara dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Untuk diketahui, Pemerintah menargetkan keseimbangan primer tahun ini sebesar Rp 89,7 triliun. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp 180,7 triliun, namun target pada 2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan target awal 2025 sebesar Rp 63,3 triliun. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai selama keseimbangan primer masih tinggi, pemerintah masih harus menerbitkan utang baru untuk membayar bunga utang lama, sehingga muncul mekanisme pembiayaan bergulir yang sering dipersepsikan sebagai gali lubang tutup lubang.
Tekanan Penerimaan dan Bunga Utang Tinggi Intai Keseimbangan Primer 2026
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko gali lubang tutup lubang dalam pengelolaan utang masih membayangi APBN 2026. Hal ini seiring dengan keseimbangan primer yang masih tinggi di tengah tekanan penerimaan negara dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Untuk diketahui, Pemerintah menargetkan keseimbangan primer tahun ini sebesar Rp 89,7 triliun. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp 180,7 triliun, namun target pada 2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan target awal 2025 sebesar Rp 63,3 triliun. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai selama keseimbangan primer masih tinggi, pemerintah masih harus menerbitkan utang baru untuk membayar bunga utang lama, sehingga muncul mekanisme pembiayaan bergulir yang sering dipersepsikan sebagai gali lubang tutup lubang.