Tekanan Transaksi Berjalan Diprediksi Berlanjut di 2026, Defisit Berpotensi Melebar



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan transaksi berjalan diproyeksikan masih berlanjut pada kuartal I-2026. Pada tahun lalu setelah sempat mencatat surplus, transaksi berjalan Indonesia kembali masuk zona merah pada kuartal IV 2025 dengan defisit mencapai US$ 2,5 miliar, dan defisit US$ 1,5 miliar sepanjang tahun 2025.

Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai pembalikan arah ini terutama dipicu oleh menyempitnya surplus neraca barang, pelebaran defisit jasa, serta meningkatnya defisit pendapatan primer seiring musim pembayaran dividen akhir tahun.

“Surplus perdagangan masih ada, tetapi menyempit. Di saat yang sama, defisit jasa melebar dan pembayaran dividen ke luar negeri meningkat pada akhir tahun,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).


Baca Juga: Kesepakatan RI-AS: Indonesia Dilarang Kenakan Pajak Digital Untuk Perusahaan AS

Kendati demikian, kabar baiknya datang dari sisi transaksi modal dan finansial yang berbalik surplus kuat. Kondisi ini membuat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kembali mencatat surplus sekitar US$ 6,1 miliar pada Kuartal IV-2025, meski menyusut secara tahunan dari US$ 7,9 miliar pada tahun 2024.

Cadangan devisa pun tetap terjaga tinggi di kisaran US$ 156,5 miliar, setara sekitar 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, dimana angka ini dinilai masih memberikan bantalan eksternal yang solid bagi perekonomian.

Memasuki Kuartal I 2026, Josua melihat tekanan transaksi berjalan berpotensi berlanjut, meski dalam rentang yang masih terkendali. Ia memperkirakan defisit akan berfluktuasi di kisaran 0,25% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Penyebab utamanya adalah potensi impor yang tumbuh lebih cepat dibanding ekspor. Dorongan kebijakan pro-pertumbuhan meningkatkan kebutuhan bahan baku dan barang modal, sementara ekspor mulai normal setelah percepatan pengapalan sebelumnya. Di saat yang sama, perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas turut menahan kinerja ekspor.

Baca Juga: Bebas Tarif, RI Akan Mengerek Impor Buah Segar, Daging, Beras, Hingga Etanol dari AS

“Surplus perdagangan masih bertahan, tetapi cenderung menyempit karena impor berpotensi meningkat lebih cepat,” jelas Josua.

Ia juga mengingatkan risiko volatilitas harga energi yang dapat menambah beban impor migas serta biaya logistik. Meski demikian, tekanan dari sisi pendapatan primer diperkirakan tidak sebesar triwulan IV karena tidak ada lagi lonjakan pembayaran dividen akhir tahun.

Secara keseluruhan, Permata Bank memandang defisit transaksi berjalan 2026 berpotensi melebar secara moderat, namun tetap berada pada level yang dapat dikelola.

Yang perlu diwaspadai, kata Josua, adalah skenario kurang menguntungkan: defisit transaksi berjalan melebar bersamaan dengan melemahnya arus masuk modal. 

Jika dua tekanan ini terjadi bersamaan, dampaknya bisa lebih terasa pada nilai tukar rupiah dan membutuhkan stabilisasi yang lebih intensif.

“Tekanan nilai tukar bisa menjadi lebih persisten jika defisit melebar di tengah arus modal yang melemah,” ujarnya.

Meski ada harapan dari potensi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat pada 2026 yang bisa menopang arus modal ke pasar emerging, pada awal tahun pasar keuangan tetap rentan terhadap ketidakpastian global maupun faktor domestik—termasuk persepsi terhadap tata kelola pasar dan kredibilitas kebijakan.

Baca Juga: Perjanjian Perdagangan Timbal Balik RI–AS Resmi Diteken Prabowo–Trump

Dalam situasi tersebut, penggunaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas rupiah harus dilakukan secara terukur.

Josua mengingatkan, jika intervensi terlalu agresif, bantalan eksternal dapat menyusut, rasio ketahanan eksternal memburuk, premi risiko meningkat, dan pada akhirnya justru menekan minat investor serta mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter. Karena itu, strategi yang lebih berkelanjutan adalah menahan pelebaran defisit transaksi berjalan melalui penguatan daya saing ekspor, peningkatan penerimaan jasa, terutama dari sektor pariwisata serta pengelolaan impor energi dan efisiensi logistik. Di saat yang sama, arus modal jangka panjang perlu diperkuat melalui kepastian arah kebijakan fiskal dan perbaikan tata kelola pasar. “Stabilitas rupiah sebaiknya tidak bertumpu berlebihan pada cadangan devisa. Penguatan fundamental eksternal jauh lebih penting,” tegas Josua. Dengan bantalan devisa yang masih tebal dan defisit yang dinilai tetap terkendali, tantangan eksternal 2026 memang tidak ringan. Namun, dengan pengelolaan kebijakan yang hati-hati, tekanan tersebut dinilai masih bisa diredam.

Selanjutnya: Jadwal Imsakiyah Kabupaten Ngawi Ramadan 2026 Lengkap

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kabupaten Ngawi Ramadan 2026 Lengkap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News