Teken MoU, RI Akan Impor Bijih Nikel Filipina untuk Kerjasama Hilirisasi Smelter



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Indonesia dan Filipina resmi menjalin kerja sama strategis pengembangan industri nikel yang membuka peluang masuknya pasokan bijih nikel Filipina untuk mendukung kebutuhan smelter di Indonesia.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026).

Penandatanganan dilakukan di sela rangkaian The 27th Meeting of the ASEAN Economic Community (AEC) Council and Related Meetings (KTT AECC ke-27) dan disaksikan langsung Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque.


Melalui kerja sama tersebut, Indonesia dan Filipina akan membangun rantai pasok industri nikel regional, dengan Indonesia berperan sebagai pusat hilirisasi dan smelter, sementara Filipina menjadi pemasok bijih nikel hulu.

“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).

Baca Juga: Indonesia Impor Nikel Filipina demi Operasional Smelter, Begini Kata Pengamat

Airlangga menjelaskan, kebutuhan bahan baku smelter di Indonesia terus meningkat seiring ekspansi industri pengolahan nikel dan baterai kendaraan listrik.

Menurutnya, sebagian smelter membutuhkan bijih nikel dengan spesifikasi tertentu yang dapat dipenuhi dari Filipina melalui proses blending.

“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita,” katanya.

Lebih lanjut Airlangga menyebut kerjasama ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke 27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama menguasai 73,6% produksi nikel global pada 2025. Indonesia menyumbang sekitar 66,7% atau 2,6 juta ton produksi dunia, sedangkan Filipina sebesar 6,9% atau 270.000 ton.

Baca Juga: Prabowo Hadiri KTT ASEAN ke-48 di Filipina, Dorong Dialog Damai Kawasan

Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5% cadangan nikel dunia atau sekitar 62 juta ton, sementara Filipina memiliki 3,4% atau 4,8 juta ton.

Pemerintah menilai kerja sama ini akan memperkuat ekosistem hilirisasi nikel nasional. Saat ini, nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia mencapai US$ 9,73 miliar pada 2025.

Selain pertukaran informasi perdagangan, ruang lingkup kerja sama APNI dan PNIA juga mencakup pengembangan teknologi hilirisasi, pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, serta pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung industri nikel berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News