KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Global Cancer Observatory 2022 mencatat kanker payudara sebagai jenis kanker terbanyak di Indonesia. Sebanyak 66.271 kasus baru atau sekitar 16,2% dari total kasus kanker, serta 22.598 kematian. Prevalensi lima tahun mencapai 209.748 kasus pada perempuan Indonesia Maka, penguatan layanan kanker nasional menjadi salah satu fokus utama transformasi sistem kesehatan Indonesia. Langkah tersebut seiring meningkatnya jumlah kasus kanker dan kebutuhan akan layanan pengobatan. Pemerintah menempatkan pengembangan teknologi medis, khususnya radioterapi, sebagai bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan kanker dari hulu ke hilir.
Kerjasama internasional berperan mempercepat adopsi teknologi medis mutakhir. Salah satunya, kerjasama Indonesia–China melalui pengenalan teknologi Integrated CT-Linac. Ini adalah sistem radioterapi presisi yang mengintegrasikan pencitraan CT diagnostik dan terapi radiasi dalam satu perangkat. Kerja sama teknologi kesehaan itu antara MRCCC Siloam Semanggi, bagian dari Siloam International Hospitals, dengan United Imaging Healthcare. Dengan pengoperasian sistem tersebut, MRCCC Siloam Semanggi menjadi rumah sakit pertama di Asia Tenggara yang memiliki dan mengoperasikan teknologi Integrated CT-Linac.
Baca Juga: Kalbe Farma (KLBF) Luncurkan Fasilitas Deteksi Dini Kanker Kedua di Jawa Timur Pemerintah menilai, adopsi radioterapi presisi penting untuk meningkatkan akurasi pengobatan kanker, mempercepat proses layanan, serta meningkatkan keselamatan pasien. Penguatan layanan kanker juga terus didorong secara menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan berbasis teknologi. CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady menyampaikan bahwa adopsi teknologi radioterapi presisi sejalan dengan upaya mendukung penguatan layanan kanker nasional. “Melalui kolaborasi ini, kami berupaya meningkatkan presisi terapi dan kualitas penanganan pasien, serta memperluas akses terhadap layanan kanker yang berkualitas,” ujar Caroline, Kamis (22/1). Pendekatan ini menekankan pentingnya keseimbangan pemanfaatan teknologi mutakhir dan kompetensi klinis tenaga medis. Integrated CT-Linac memungkinkan radioterapi berbasis pencitraan real-time, yang menuntut ketepatan perencanaan terapi serta penyesuaian klinis sesuai kondisi individual pasien. Presiden
International Business United Imaging Healthcare Group, Jusong Xia menyatakan kolaborasi lintas negara diperlukan untuk menjawab tantangan kanker yang bersifat global. “Kanker membutuhkan inovasi berkelanjutan dan kerja sama jangka panjang agar teknologi medis dapat memberikan dampak klinis yang nyata,” ujarnya. Sementara itu, Direktur Eksekutif MRCCC Siloam Semanggi dr. Edy Gunawan, MARS mengatakan bahwa integrasi teknologi radioterapi presisi merupakan bagian dari upaya memperkuat layanan onkologi di tingkat nasional dan regional. “Pendekatan berbasis presisi dan inovasi diharapkan dapat meningkatkan efektivitas terapi sekaligus pengalaman perawatan pasien,” katanya. Secara teknis, Integrated CT-Linac menyederhanakan alur kerja radioterapi yang pada metode konvensional dapat memakan waktu hingga berminggu-minggu.
Dengan sistem ini, seluruh proses—mulai dari pencitraan hingga penyinaran—dapat dilakukan dalam satu sesi dengan durasi sekitar 15–25 menit tanpa memindahkan posisi pasien. Pemanfaatan teknologi ini juga didukung pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News