KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI sebagai
master of ceremony alias MC mulai membuka peluang bisnis baru di industri event. Teknologi ini diterapkan dalam penyelenggaraan Top Brand Award 2026, yang menghadirkan Lisa, MC berbasis AI, sebagai pemandu acara. CEO Frontier Handi Irawan D. menilai, penggunaan MC AI memiliki nilai bisnis, terutama dari sisi efisiensi dan penciptaan pengalaman baru bagi audiens.
“Efektivitas MC AI dilihat dari kemampuannya menghasilkan customer experience. Di situlah letak manfaat utamanya,” ujar Handi kepada KONTAN, Kamis (5/2). Dari sisi biaya, Handi menyebut MC AI relatif lebih terjangkau dibandingkan MC konvensional dengan tarif tinggi. Teknologi AI yang semakin mudah diakses turut menekan biaya implementasi. “Kalau dibandingkan dengan MC dengan tarif mahal, sudah pasti AI lebih murah dan terjadi efisiensi,” kata Handi. Baca Juga:
Survei 2025: 72% Orang Indonesia Belum Gunakan Teknologi AI Terkait investasi, Handi menyarankan perusahaan menggunakan skema
outsourcing ketimbang membangun sistem AI sendiri. Menurutnya, pengembangan internal membutuhkan biaya besar, mulai dari pembuatan avatar, visual, hingga tenaga ahli. Dengan skema tersebut, biaya penggunaan MC AI untuk sebuah acara dapat berada di bawah Rp 10 juta, tergantung durasi dan konsep. Handi menambahkan, peluang pemanfaatan MC AI terbuka bagi berbagai sektor usaha, khususnya perusahaan yang masih mengandalkan event sebagai bagian dari strategi pemasaran dan penguatan merek. Semakin tinggi frekuensi penyelenggaraan event, semakin besar potensi adopsi teknologi ini. Meski demikian, Handi bilang, MC AI belum sepenuhnya menggantikan peran manusia. Teknologi ini akan berjalan berdampingan dengan MC konvensional, terutama untuk acara yang membutuhkan kedekatan emosional atau figur publik.
"AI akan menggantikan sebagian pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang baru,” sebutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News