Teknologi usang, Motorola gagal dapat investor



NEW YORK. Motorola Solutions Inc gagal menemukan investor baru atau pembeli meskipun telah mendekati sejumlah perusahaan private equity. Sumber Bloomberg menyebutkan, Motorola telah mendekati beberapa pembeli strategis, namun tidak mendapat sambutan positif.

Adapun pembeli strategis yang diincar adalah Honeywell International Inc dan Tyco International Plc. Calon investor mengkhawatirkan teknologi Motorola sudah ketinggalan zaman sehingga mereka tak memiliki peluang meraup untung besar.

Sumber Bloomberg juga menyebutkan, pembeli strategis menganggap target perolehan dana terlalu tinggi. Apalagi, penjualan Motorola kurang menggembirakan.


"Produk Motorola juga tumpang tindih dengan produk Honeywell yang dijual ke Zebra," ujar Shannon O'Callaghan, analis UBS Group AG menjelaskan alasan ketidaktertarikan investor.

Jurubicara Motorola, Honeywell maupun Tyco menolak berkomentar soal ini.

Motorola tengah berjuang untuk keluar dari masa sulit. Tahun lalu, laba per saham Motorola jatuh 45%. Di tahun ini, penjualan diperkirakan sedikit lebih rendah. Di penutupan perdagangan sebelum libur Paskah, harga saham Motorola melorot 6,2% menjadi US$ 62,51 per saham.

Keith Housum, analis Northcoast Research di Cleveland mengatakan, perusahaan kemungkinan besar akan mengumpulkan dana dari operator wireless yang ingin memperdalam hubungan dengan penyedia layanan jaringan komunikasi yang dipercaya dan konstan.

Pilihan lain bagi Motorola saat ini adalah pembelian kembali alias buyback saham. Namun, andai Motorola mengambil langkah ini, akan menaikkan utang dan tidak akan menarik bagi perusahaan private equity bila kelak hendak dijual.

Pada awal Februari 2015, Bloomberg melaporkan bahwa Motorola tengah menyewa bank investasi untuk mencari pembeli. Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, proses penjualan saham sudah dilakukan sejak berbulan-bulan sebelumnya.

Motorola merupakan perusahaan telekomunikasi yang membuat peralatan radio untuk pekerja darurat. Pelanggannya adalah pemerintah dan beberapa produsen kendaraan seperti Volkswagen AG, Ford Motor Co dan Bayerische Motoren Werke AG.

Editor: Hendra Gunawan