Teladan Prima Agro (TLDN) Kejar Kinerja Positif di 2026, Intip Strateginya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) tetap mengincar pertumbuhan kinerja positif, di tengah tantangan geopolitik global di sepanjang 2026. 

Dari sisi kinerja operasional, TLDN menargetkan peningkatan produksi sekitar 5%-10% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Optimisme ini sejalan dengan berbagai katalis positif bisnis tahun ini, mulai dari outlook harga crude palm oil (CPO), cuaca dan lingkungan, serta dukungan pemerintah. 


Baca Juga: Stok Batubara PLTU di Bawah 20 Hari, Ancaman Pasokan Listrik Mengintai

“Dengan kondisi industri, kemudian cuaca dan lingkungan dari government saat ini yang cukup baik, kami optimistis untuk menargetkan target produksi tahun ini insya Allah bisa lebih baik 5%–10% dibandingkan tahun 2025,” ungkap Head of Corporate Finance & Strategy TLDN, Wasisto Budi Sulistio, dalam konferensi pers, Kamis (16/4/2026). 

Sebagai catatan, produksi tandan buah segar (TBS) inti Teladan Prima Agro naik 3,6% menjadi Rp 1,10 juta ton sepanjang 2025. Begitu juga dengan produksi TBS plasma yang tercatat sebanyak 161.476 ton atau naik 9% YoY.

Sementara produksi CPO meningkat 2,5% menjadi 33.092 ton, dan produksi inti sawit naik 2,8% ke 52.197 ton.

Dia melanjutkan, untuk kinerja keuangan TLDN mengincar pertumbuhan hingga 10% untuk perolehan pendapatan maupun laba dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagai upaya mencapai ambisi yang dibidik tahun ini, TLDN sudah menyiapkan sejumlah agenda ekspansi. Di antaranya pengembangan pabrik pengolahan inti sawit (kernel crushing plant) dan biogas power plant baru. Kedua pabrik anyar ini ditargetkan rampung pada akhir 2026. 

Adapun, tujuan dari pembangunan kernel crushing plant adalah untuk menambah value dari inti sawit untuk dapat diolah menjadi CPKO, sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi. 

 
TLDN Chart by TradingView

Untuk diketahui, saat ini TLDN sudah mengoperasikan satu pabrik pengolahan inti sawit dengan kapasitas 100 ton PK/hari, dan satu pembangkit listrik tenaga biogas yang berlokasi di area perkebunan perseroan di Kalimantan Timur. 

Di sisi lain, perseroan menggarisbawahi sejumlah variabel yang dapat menentukan kondisi industri kelapa sawit di sepanjang tahun. Salah satunya berkaitan dengan kondisi cuaca dan lingkungan yang dapat sangat mempengaruhi laju operasional industri kelapa sawit. 

“El Nino yang berkepanjangan yang kita harapkan semoga tidak terjadi tapi para ahli menyatakan bahwa tahun 2026 ini ada kemungkinan besar terjadinya El Nino di sektor perkebunan dan pertanian,” jelasnya. 

Antisipasi Tantangan Geopolitik

 

Seperti mayoritas industri lainnya, bisnis kelapa sawit juga turut terdampak kondisi geopolitik global, terutama berkaitan dengan kenaikan harga material seperti pupuk. 

Direktur of Finance Accounting & Tax TLDN, Mahirudin memaparkan bahwa dengan strategi dan mitigasi yang dilakukan, perseroan bisa mengamankan kebutuhan pupuk untuk kebutuhan operasional. 

Dengan demikian, dampak dari lonjakan harga pupuk ini dapat diminimalisir, sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap beban operasional perusahaan.  

“Karena kenaikan harga pupuk cukup tinggi, namun kami sudah melakukan pembelian lebih dulu pada saat harga sebelum naik, itu sekitar 70% dari total kebutuhan. Sehingga dengan kenaikan yang terakhir ini, berdampak hanya sekitar 30% terhadap pupuk, sehingga tidak banyak berpengaruh terhadap biaya operasional,” jelasnya. 

Baca Juga: Perkuat Posisi di Industri Ritel Farmasi, VIVA Apotek Akuisisi Farmaku

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar juga menjadi aspek lainnya yang diperhatikan perusahaan. Namun demikian, kareana beban biaya bahan bakar hanya menyumbang sekitar 15%-20% terhadap total biaya, jadi dampaknya tidak terlalu besar. 

“Selain itu, Perseroan juga mulai menginisiasi shifting penggunaan energi fosil ke energi terbarukan, termasuk penggunaan biogas power plant dan tenaga surya di beberapa perkebunan,” sebut dia.

Dari kinerja keuangan, TLDN tercatat membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan TLDN tercatat Rp 5,42 triliun sepanjang 2025, atau meningkat 28,42% YoY dari Rp 4,21 triliun pada 2024.

Sementara perolehan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih tercatat mencapai Rp 1,10 triliun, naik 34,03% YoY.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News