Telkom Satelit Genjot Layanan End User, Bergeser dari Bandwidth ke Solusi Digital



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri satelit nasional mulai memasuki fase baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital dan ketatnya persaingan teknologi komunikasi berbasis orbit rendah atau low earth orbit (LEO). 

Model bisnis operator satelit kini bergeser, tidak lagi sekadar menjual kapasitas bandwidth, tetapi  menawarkan solusi layanan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pengguna.

Di tengah perubahan tersebut, PT Telkom Satelit (Telkomsat) justru mengoperasikan kapasitas sekitar 40 gigabit per second (Gbps) untuk mendukung layanan konektivitas di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah yang belum terjangkau jaringan terestrial.


Baca Juga: UBC Medical (LABS) Siapkan Alat Deteksi Dini Cegah Penyebaran Hantavirus

Direktur Pengembangan Telkomsat, Anggoro Kurnianto Widiawan, mengatakan kapasitas tersebut saat ini dimanfaatkan untuk melayani beragam kebutuhan pelanggan di seluruh Indonesia. 

Selain itu, Telkomsat turut menjalin kemitraan dengan sejumlah penyedia kapasitas satelit guna memperluas jangkauan layanan.

“Telkomsat saat ini mengoperasikan kapasitas sekitar 40 Gbps yang tersedia untuk melayani Indonesia. Kami juga bermitra dengan berbagai penyedia kapasitas satelit untuk memungkinkan layanan menjangkau seluruh pelanggan,” ujar Anggoro dalam Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Anggoro menegaskan, arah bisnis satelit ke depan bukan lagi hanya bertumpu pada penjualan kapasitas, melainkan harus mampu menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna akhir. 

Itu sebabnya, Telkomsat mulai menggeser fokus bisnis ke segmen end user dengan memperkuat inovasi layanan berbasis kebutuhan pelanggan.

“Fokus kami sekarang dan ke depan adalah pada sisi pengguna. Sangat penting bahwa kapasitas yang kami sediakan benar-benar bermakna dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan,” katanya.

Ia menambahkan, Indonesia masih menjadi pasar strategis bagi industri satelit. Kondisi geografis kepulauan membuat konektivitas tidak bisa sepenuhnya bergantung pada jaringan serat optik maupun infrastruktur darat.

Baca Juga: Program Jaga Air Bersih untuk Desa Dimulai, 70 Sumur Dibangun di Seluruh Indonesia

Menurutnya, peran satelit tetap krusial untuk mendukung pemerataan akses digital, terutama di wilayah terpencil, perbatasan, hingga daerah dengan keterbatasan jaringan terestrial.

Lebih jauh, Anggoro menilai inovasi industri satelit harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengembangan layanan di sisi pengguna hingga pemanfaatan teknologi di tingkat infrastruktur dan antariksa.

“Ini membutuhkan inovasi kami dari bawah sampai ke ruang angkasa,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News