Telkom serap 79,6% belanja modal untuk ekspansi



JAKARTA. Hingga berakhirnya kuartal III-2016, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) telah menggunakan sekitar 79,6% dari anggaran belanja modal tahun ini yang dipatok sebesar Rp 25 triliun. Artinya, perusahaan halo-halo ini sudah menyerap belanja modal sekitar Rp 19,9 triliun.

VP Corporate Communication TLKM Arief Wibowo mengatakan, serapan capital expenditure (capex) paling besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur backbone dan akses bisnis fixed broadband serta mobile broadband.

”Ada juga untuk pembangunan sistem kabel laut lintas benua, tower dan data center,” kata Arief kepada KONTAN, Kamis (27/10).


Seperti diketahui, TLKM menjadi salah satu anggota konsorsium kabel bawah laut South East Asia, Middle East, dan Western Europe. Konsorsium ini bertujuan membangun kabel bawah laut sepanjang 20.000 kilometer.

Selain itu perusahaan pelat merah ini juga akan membangun kabel bawah laut yang menghubungkan pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dengan Singapura. Nilai investasinya US$ 196 juta. Telkom juga mengalokasikan sebagian belanja modal untuk anak usahanya, PT Telkomsel.

Dana tersebut digunakan untuk pembangunan BTS. Telkomsel sudah membangun 20.808 BTS baru. Sekitar 90% merupakan BTS 3G dan 4G. Jadi, hingga akhir September lalu, TLKM mengoperasikan 124.097 unit BTS, tumbuh 23,6% dari awal tahun.

Arief menyebut, ekspansi ini sejalan dengan rencana perusahaan yang ingin bertransformasi menjadi perusahaan penyedia layanan digital. Di periode sembilan bulan pertama 2016, TLKM mencatat pertumbuhan pendapatan 12,8% menjadi Rp 86 triliun dari Rp 75,7 triliun.

Kenaikan disokong pertumbuhan pendapatan bisnis jasa internet dan teknologi informatika yang mencapai 27,7% jadi Rp 44,5 triliun. Pendapatan telepon seluler pun tumbuh 2,1% jadi Rp 34 triliun. Namun pendapatan interkoneksi terkikis jadi Rp 3 triliun.

Begitu pula pendapatan jaringan sewa transponder satelit anjlok ke Rp 696 miliar. Dengan demikian, TLKM semakin mendekati target pendapatan tahun ini, yakni Rp 100 triliun hingga akhir tahun. Adapun laba bersih perusahaan ini juga naik sekitar 26% menjadi Rp 22 triliun dari sebelumnya Rp 17,5 triliun.

Sebagai informasi, TLKM juga masih memiliki utang jatuh tempo dalam waktu setahun sebesar Rp 4,9 triliun. Sehingga liabilitas jangka pendek perusahaan juga naik jadi Rp 40 triliun dari Rp 35 triliun di Desember 2015.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie