Telkom (TLKM) Akui Bisnis Jaringan 5G Belum Menguntungkan



KONTAN.CO.ID - YOGYAKARTA. Emiten telekmonuikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengakui bisnis jaringan 5G saat ini belum menguntungkan bagi operator seluler.

Pasalnya, sejak jaringan 5G pertama kali digelar pada Mei 2021, penetrasi ponsel pintar 5G hingga kini masih 5%. Tingkat adopsi diperkirakan baru bisa tumbuh di atas 30 persen pada 2027.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan, bisnis jaringan 5G di seluruh dunia belum menguntungkan sehingga mengakibatkan beberapa operator seluler berhenti ekspansi di jaringan 5G ini.


Baca Juga: Ini Langkah Telkom (TLKM) Terapkan ESG untuk Bisnis Berkelanjutan

“Bisnis ini belum sebesar yang diperkirakan dan belum making money (untung),” ujarnya di Yogyakarta, Kamis malam (16/11).

Ririek menuturkan, bisnis jaringan 5G milik Telkom Group belum tumbuh besar lantaran spektrum 5G yang belum tersedia. 

Berdasarkan catatan Telkom, jumlah handset yang menggunakan teknologi 5G di Telkom hanya sekitar 5-6% dari total pelanggan.

Di tengah belum tumbuh signifikannya jaringan 5G ini, berdasarkan catatan KONTAN, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah mengkaji insentif untuk implementasi teknologi jaringan telekomunikasi 5G. Hal ini agar jaringan 5G dapat dioptimalkan untuk peningkatan kecepatan internet yang lebih baik.

Baca Juga: Telkom Indonesia (TLKM) Ungkap Keuntungan Kerja Sama dengan Starlink

Pelaku industri telekomunikasi mendorong pemerintah mendukung segera terbentuknya ekosistem layanan berteknologi akses seluler 5G, termasuk ketersediaan lebar pita spektrum frekuensi yang memadai beserta insentif pemakaiannya.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi telah bertemu dengan para operator seluler, salah satunya yakni Telkomsel.

Dalam pertemuan, dibahas alternatif-alternatif dan/atau skema-skema untuk pemberian insentif kepada operator seluler dalam meningkatkan kecepatan bandwidth nasional.

Pemberian insentif pengembangan 5G dikaji dengan memperhatikan kebutuhan infrastruktur digital nasional menuju indonesia digital tahun 2030. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto