Telkom (TLKM) Revisi Capex & Hadapi Pelemahan Rupiah, Target Harga Saham Dipangkas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat kinerja yang masih solid namun tertekan sejumlah faktor non-operasional pada kuartal I 2026. Dalam analyst meeting pada 2 Juni 2026, manajemen mempertahankan panduan kinerja tahun 2026.

Namun manajemen TLKM mengisyaratkan potensi peninjauan kembali rasio belanja modal terhadap pendapatan alias capex-to-revenue di kisaran 17%–19% akibat risiko depresiasi rupiah.

Analis CGS International, Bob Setiadi, dalam riset tertanggal 3 Juni 2026, menilai tekanan makro dan biaya satu kali (one-off) menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja TLKM di awal tahun.


Baca Juga: Regulasi Tambang Lebih Jelas, Sentimen Positif Mengalir ke Saham Emiten Nikel

“Sebagian besar beban one-off pada 1Q26 berada di bawah EBITDA, termasuk depresiasi yang lebih tinggi, kerugian mark-to-market dari investasi GOTO, serta dampak pajak dari TIF,” ujar Bob dalam riset.

TLKM membukukan sejumlah beban non-berulang, antara lain depresiasi sebesar Rp 498 miliar, kerugian mark-to-market investasi GOTO senilai Rp 309 miliar, serta dampak pajak Rp 180 miliar dari TIF. Di sisi operasional, biaya O&M tercatat naik 4,4% secara tahunan, didorong oleh kenaikan biaya voucher game, customer premises equipment (CPE), serta pengakuan biaya TIK B2B yang lebih tinggi secara kuartalan.

Dengan kondisi tersebut, laba bersih yang dinormalisasi TLKM pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp 5,1 triliun, turun 3,7% secara tahunan.

Di tengah tekanan biaya, TLKM tetap melanjutkan agenda efisiensi. Perusahaan ini menargetkan alokasi belanja untuk Enterprise Resource Planning (ERP) sebesar Rp 1,1 triliun – Rp 1,2 triliun pada tahun 2026, dengan realisasi awal di kuartal I-2026 sebesar Rp 10 miliar – Rp 12 miliar.

Selain itu, TLKM menargetkan perampingan 9–10 entitas hingga akhir semester I-2026, dengan beberapa proses sudah berjalan, termasuk unit layanan kesehatan seperti AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung penandatanganan SPA dalam waktu dekat.

Di anak usaha Telkomsel (TSEL), tekanan persaingan harga yang mulai mereda pada kuartal I-2026 berdampak positif pada tingkat churn pelanggan yang menurun. Jumlah pelanggan tercatat 153,7 juta atau turun 1,5% secara kuartalan dan 3,2% secara tahunan.

Namun, kualitas pendapatan data meningkat dengan yield mencapai Rp 3,12 per MB, naik 1,5% secara kuartalan dan 8% secara tahunan. Meski ARPU seluler masih relatif terendah di industri sebesar Rp 45.100, manajemen TLKM menegaskan akan tetap disiplin dalam strategi penetapan harga di tengah kondisi makro yang menantang.

Untuk bisnis fixed broadband (FBB/IndiHome), persaingan masih ketat, tetapi strategi pemasaran baru berhasil menstabilkan ARPU pada kuartal I-2026.

Baca Juga: Masih Ragu ke RI, Ini Pemicunya Menurut Maybank Sekuritas Saat Jumpa Investor Global

TSEL juga memperkirakan lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz akan selesai pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026.

Bob menjelaskan pihaknya melakukan penyesuaian proyeksi ke 2026–2027 dengan beberapa asumsi utama: penurunan jumlah pelanggan seluler, kenaikan ARPU, peningkatan biaya operasional termasuk ERP dan spektrum baru, serta depresiasi yang lebih tinggi akibat perubahan akuntansi.

“Kami menurunkan proyeksi EBITDA 2026–2027 sebesar 0,9–1,1% dan laba bersih 3,7–8,9%. Target harga kami juga kami turunkan menjadi Rp 3.900 dari Rp 4.100,” jelas Bob.

Kenaikan weighted average cost of capital (WACC) menjadi 9,9% dari sebelumnya 9,6%, seiring kenaikan risk-free rate menjadi 7%, turut menekan valuasi berbasis DCF.

Meski demikian, CGS International tetap mempertahankan rekomendasi add untuk saham TLKM. Menurut Bob, hal ini didukung oleh perbaikan dinamika persaingan, potensi transformasi bisnis, serta imbal hasil dividen sekitar 7% pada 2026–2027.

TLKM saat ini diperdagangkan pada EV/EBITDA 12 bulan ke depan sebesar 4,8 kali, atau sekitar 0,8 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Bob menambahkan, risiko penurunan (downside risks) masih berasal dari intensifikasi persaingan seluler, biaya spektrum yang lebih tinggi, serta potensi keputusan pajak yang kurang menguntungkan. Namun, katalis positif dapat muncul dari kenaikan harga paket seluler, monetisasi aset, dan inisiatif efisiensi biaya yang berhasil dieksekusi.

Hitungan Bob, pendapatan dan laba bersih TLKM pada tahun ini akan mencapai Rp 150,89 triliun dan Rp 21,35 triliun. Sementara pendapatan dan laba bersih di 2027 masing-masing mencapai Rp 154,61 triliun dan Rp 23,95 triliun. 

Baca Juga: Gandeng Glencore, RMKE Bidik Penjualan Batubara 3,8 Juta Ton pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News