Telolet belum mengangkat bisnis otobus



JAKARTA. Fenomena Om Telolet Om yang tengah mewabah rupanya masih belum membuat bisnis perusahaan otobus (PO) bisa melaju lebih kencang. Sejumlah pebisnis angkutan antar provinsi ini masih mengeluhkan sepinya bisnis angkutan tersebut.

Menurut Kurnia Lesani Adnan, Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (Ipomi), meski efek telotet tengah membahana, toh, bisnis bus antar provinsi ini cenderung stagnan, tidak ada kenaikan atau penurunan penumpang.

Misalnya, dari sisi armada, perusahaan otobus lebih memilih meremajakan armadanya ketimbang menambah armada. Ia menghitung saban tahun setiap PO rata-rata meremajakan antara dua sampai 15 unit bus.


Namun ia masih berharap bisnis ini bisa tumbuh tahun depan. Soalnya sudah ada pembukaan ruas jalan tol anyar yakni ruas Sragen-Solo. "Bila jalan tol sudah siap, kami juga siap, kami ingin moda transportasi ini kembali digemari," katanya kepada KONTAN, Jumat (23/12).

Salah satu perusahaan otobus, PT Gaya Utama Jaya, pengelola PO Luragung Termuda yang mengoperasikan sekitar 25 unit bus rata-rata meremajakan sekitar lima armada per tahunnya.

Menurut Widiana Ganjar, Direktur PT Gaya Utama Jaya, meski tren bisnis ini sedang turun, tapi ia memperkirakan bisa meraup kenaikan omzet bisnis antara 10%-15% di akhir tahun ini. Salah satu penyebab adalah mulai adanya lonjakan penumpang jelang libur akhir tahun ini. "Tahun depan kami targetkan ada kenaikan 30%," katanya kepada KONTAN.

Sedangkan Pemilik PO Efisiensi, Teuku Erry menyebut sudah terjadi kenaikan jumlah penumpang 10 % dari hari biasa sejak Oktober lalu. Penyebabnya adalah keberadaan komunitas bus mania. "Ini sedikit membantu usaha kami," kata Erry kepada KONTAN.

Kondisi berbeda justru dialami oleh PO Sumber Alam. Menurut Yudi Setiawan Hambali, pemilik PO Sumber Alam, selama hampir dua tahun ini bisnis angkutan bus antarkota antarprovinsi sepi penumpang. "Masih lesu, belum ada kenaikan jumlah penumpang," tuturnya.

Sepinya bisnis PO ini lantaran kalah bersaing dengan kereta api serta pesawat terbang. Yudi memproyeksikan, tahun ini bakal ada penurunan penumpang 20% dari tahun lalu.

Priyono, Direktur Utama PO Handoyo juga menyatakan hal serupa. Ia memproyeksikan jumlah penumpang yang diangkut PO ini bakal anjlok hingga 40% sepanjang 2016. Kalaupun ada kenaikan, baru terasa menjelang musim liburan akhir tahun ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News