JAKARTA. Fenomena Om Telolet Om yang tengah mewabah rupanya masih belum membuat bisnis perusahaan otobus (PO) bisa melaju lebih kencang. Sejumlah pebisnis angkutan antar provinsi ini masih mengeluhkan sepinya bisnis angkutan tersebut. Menurut Kurnia Lesani Adnan, Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (Ipomi), meski efek telotet tengah membahana, toh, bisnis bus antar provinsi ini cenderung stagnan, tidak ada kenaikan atau penurunan penumpang. Misalnya, dari sisi armada, perusahaan otobus lebih memilih meremajakan armadanya ketimbang menambah armada. Ia menghitung saban tahun setiap PO rata-rata meremajakan antara dua sampai 15 unit bus.
Telolet belum mengangkat bisnis otobus
JAKARTA. Fenomena Om Telolet Om yang tengah mewabah rupanya masih belum membuat bisnis perusahaan otobus (PO) bisa melaju lebih kencang. Sejumlah pebisnis angkutan antar provinsi ini masih mengeluhkan sepinya bisnis angkutan tersebut. Menurut Kurnia Lesani Adnan, Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (Ipomi), meski efek telotet tengah membahana, toh, bisnis bus antar provinsi ini cenderung stagnan, tidak ada kenaikan atau penurunan penumpang. Misalnya, dari sisi armada, perusahaan otobus lebih memilih meremajakan armadanya ketimbang menambah armada. Ia menghitung saban tahun setiap PO rata-rata meremajakan antara dua sampai 15 unit bus.