Tempo Scan (TSPC) Gandeng SBP Group Bentuk JV, Perkuat Lini Bisnis Farmasi Khusus



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) membentuk perusahaan patungan atawa joint venture (JV) bersama Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group Co., Ltd (CTTQ), anak usaha dari Sino Biopharmaceutical Limited (SBP Group), perusahaan farmasi berbasis inovasi dan riset di Tiongkok.

Melalui kolaborasi ini, akan dibangun perusahaan anyar bernama PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) untuk memperkuat lini bisnis specialty pharmaceutical (farmasi khusus).

Adapun Tempo Scan Pacific memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 49%, sedang SBP Group memegang sebesar 51% saham perusahaan patungan tersebut.


Komisaris Utama TSPC Handojo Selamet Muljadi menjelaskan, pada fase awal, prioritas kegiatan usaha perusahaan baru ini berfokus pada komersialisasi dan pengembangan pasar. Hal ini dilakukan melalui membangun organisasi yang solid, menyediakan modal kerja, memenuhi persyaratan regulatori, dan melaksanakan studi klinis.

"Kami akan melibatkan mitra distribusi (midis) untuk melaksanakan komersialisasi obat-obatan secara bertanggung jawab," ujarnya dalam joint venture signing ceremony di Tempo Scan Tower, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Takeda Akan Gelontorkan Rp 539 Miliar Bangun Bank Plasma di Indonesia

Pada tahap kedua, TCBI disebut akan mengevalusasi alih teknologi dan produksi obat-obatan di dalam negeri secara bertahap dengan memanfaatkan fasilitas baru faktur yang dimiliki oleh Tempo Scan Pacific.

"Kedua tahapan pengembangan usaha tersebut merupakan suatu strategi kami untuk memperluas dan mempercepat akses pasien terhadap obat-obatan SBP Group dengan harga yang relatif terjangkau," jelas Handojo.

Ia menambahkan, kedua perusahaan memilih untuk melakukan kolaborasi melalui pembentukan usaha patungan alih-alih lisensiau distribusi. Menurutnya, perjanjian distribusi dan lisensi lebih bersifat jangka pendek dan banyak digunakan perusahaan farmasi asing untuk masuk ke pasar Indonesia.

"Sementara itu, joint venture mengandung komitmen yang bersifat jangka panjang melalui pembentukan perusahaan yang didirikan secara permanen di Indonesia, dengan modal ekuitas maupun risiko komersial yang menjadi tanggung jawab para pemegang sahamnya," imbuh Handojo.

Namun, ia tak mengungkap besaran investasi yang digelontorkan untuk membangun perusahaan patungan ini. Yang jelas, kata Handojo, kedua perusahaan akan terus mengembangkan peta jalan (roadmap) untuk ahli teknologi.

Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Kejar Kinerja Naik High Single Digit di 2026, Ini Strateginya

"Dan yang terpenting ini adalah suatu langkah yang baik, yaitu kehadiran investasi asing di saat perekonomian Indonesia dalam kondisi seperti saat ini," jelas dia.

Handojo membeberkan dengan kehadiran TCBI, pihaknya berencana menambah fasilitas produksi di dalam negeri. Meskipun, detail lokasi dan jumlah fasilitas yang akan dibangun belum diungkapkan.

"Intinya dalam perencanaan kami, itu (pembangunan fasilitas produksi) yang akan kami lakukan," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, President International SBP Group Philip Duong mengatakan langkah ini merupakan komitmen pihaknya untuk memperluas akses obat inovatif bagi lebih banyak pasien, terutama penderita penyakit kronis.

Ia mengklaim, obat-obatan SBP Group telah membantu lebih dari 1 juta pasien onkologi di China. Sebagai perusahaan yang berfokus pada inovasi dan riset, Philip mengatakan pihaknya mengalokasikan sekitar US$800 juta untuk kegiatan riset dan pengembangan (research & development/R&D) pada tahun lalu guna mendukung pengembangan obat inovatif.

Menurut dia, pendekatan serupa juga akan dibawa ke Indonesia melalui kehadiran TCBI. "Dengan menggabungkan inovasi SBP Group dan keahlian lokal Tempo Scan, kami berharap dapat mempercepat akses pasien Indonesia terhadap terapi inovatif serta mendukung penguatan ekosistem kesehatan nasional," imbuh Philip.

Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Biofarmasi ASEAN, NBF Perkuat Kapasitas CDMO, Investasi US$ 80 Juta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News