Tensi Geopolitik AS–Iran Turun, Rancangan Kesepakatan Mulai Disepakati



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik bersenjata yang sempat memanas di kawasan Teluk, menurut sejumlah sumber yang dikutip Reuters. Kabar tersebut langsung mengguncang pasar global, termasuk mendorong penurunan harga minyak mentah dunia.

Seorang pejabat senior pemerintahan AS menyebut kedua pihak telah menyepakati rancangan teks awal dan Washington disebut akan menandatangani perjanjian pendahuluan dalam beberapa hari ke depan. Kesepakatan itu dinilai menjadi langkah awal menuju deeskalasi konflik yang telah mengganggu stabilitas kawasan energi global.

Namun di tengah kabar kemajuan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa negaranya tetap berada dalam posisi kuat. Ia bahkan menyatakan bahwa Iran muncul sebagai pihak yang menang dalam perang melawan AS.


Baca Juga: Terancam Ditutup, Pabrik Komponen iPhone di India Diduga Cemari Lahan Pertanian

“Iran adalah pemenang perang dengan Amerika Serikat,” ujar Araqchi dalam siaran televisi pemerintah Iran.

Situasi di lapangan masih menunjukkan ketegangan. Beberapa jam setelah pernyataan tersebut, pasukan Amerika Serikat dilaporkan menembak jatuh sejumlah drone serang satu arah milik Iran yang menuju Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian memastikan bahwa jalur pelayaran di wilayah tersebut tetap terbuka.

Negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan itu disebut mencakup rancangan kesepakatan yang membuka kembali Selat Hormuz serta pelonggaran sebagian sanksi Amerika terhadap ekspor minyak Iran. Sebagai imbalan, Iran disebut bersedia melanjutkan pembahasan mengenai program nuklirnya dalam periode 60 hari.

Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengatakan kesepakatan tersebut sudah berada di jalur yang sangat baik dan memenuhi tujuan utama Washington, meski rincian final masih dapat berubah.

Dalam skema awal yang beredar, AS disebut akan mencairkan aset Iran yang dibekukan serta memberikan keringanan sanksi ekspor minyak. Namun implementasi penuh disebut bergantung pada kepatuhan Iran dalam tahap lanjutan negosiasi.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Pembukaannya kembali diperkirakan menjadi faktor kunci yang menenangkan pasar energi global.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel tidak menjadi bagian dari kesepakatan tersebut, sementara pemerintah Israel tetap mempertahankan sikap waspada terhadap potensi ancaman dari Iran.

Di pasar keuangan, kabar kemajuan negosiasi ini langsung memicu penurunan harga minyak mentah Brent lebih dari 3 persen, menyentuh level terendah dalam hampir dua bulan. Investor menilai potensi deeskalasi konflik dapat meredakan risiko gangguan pasokan energi global.

Baca Juga: Jam Mewah Omega & TAG Heuer Tak Laku, Lebih Mahal Saat Dilebur Jadi Emas

Meski demikian, sejumlah analis menilai kesepakatan ini masih rapuh, mengingat perbedaan posisi kedua negara masih cukup lebar, terutama terkait program nuklir Iran dan tuntutan pengawasan jangka panjang dari pihak AS.