Tensi Geopolitik Memanas, Bagaimana Prospek Pergerakan Harga Emas ke Depan?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga emas dunia diprediksi masih mengkilap. Panasnya tensi geopolitik dan permintaan China akan emas menjadi pemicunya.

Research and Development ICDX Jonathan oktavianus mengatakan, kenaikan emas dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan serangan lebih dari 300 rudal dan drone yang menyebabkan kerusakan ringan di Israel.

Di sisi lain, data ekonomi China melaporkan kinerja yang positif. Ekonomi Negara Tirai Bambu itu berekspansi 5,3% sepanjang tahun pada kuartal I 2024, dibandingkan dengan pertumbuhan 5,2% pada kuartal terakhir 2023 dan perkiraan pasar sebesar 5% pada periode yang dilaporkan.


Berdasarkan data Trading Economics, harga emas pada Selasa (16/4) pukul 18.34 WIB, berada di US$ 2.372 per troy ons atau menguat 0,80% dalam sepekan terakhir.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik, Pembeli 1,5 Tahun Lalu Cuan 29.95%!

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan melanjutkan, prospek penguatan harga emas berpotensi bisa jauh lebih signifikan karena permintaan meningkat saat geopolitik memanas. Terlebih, ekskalasi perang antara Iran dan Israel yang dinilai pasar akan memberi dampak lebih signifikan.

"Sehingga emas menjadi primadona dalam kondisi seperti ini, meskipun dolar Amerika Serikat (AS) dan emas sama-sama dinobatkan sebagai aset safe heven, tetapi emas yang telah menjadi 'Mata Uang Tuhan' lebih diminati," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (16/4).

Brahmantya menilai, jika eskalasi terus membesar dan tidak ada tanda-tanda genjatan senjata maka permintaan emas akan menjadi lebih tinggi. Di sisi lain, China juga telah memborong emas sejak 16 bulan lalu, menjadikan permintaan pasar terhadap emas lebih kentara.

"Potensi emas dalam keadaan geopolitik yang masih memanas dapat mencapai US$ 2.500 dalam waktu dekat," paparnya.

Jonathan melanjutkan, target harga hingga akhir tahun akan tergantung dari sejumlah faktor. Mulai dari bertemunya katalis permintaan dan penawaran, ketegangan geopolitik yang lebih luas, penguatan kinerja dolar AS, dan kondisi ekonomi China.

Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Menguat, Dipicu Penguatan Dolar AS Jelang Rilis Retail Sales

"Sebuah langkah China menambah simpanan emasnya, karena China terus mendiversifikasi kepemilikan bank sentralnya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS," sebutnya.

Dus, harga emas diperkirakan akan memiliki support resistance di akhir tahun antara US$ 2.100 - US$ 3.000 per troy ons.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi