Tensi Geopolitik Memanas Berisiko Kerek Inflasi, Picu Mode Risk Off di Pasar Keuangan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini juga yang mengganggu pasar energi dan mendorong harga minyak mentah Brent di atas US$ 80 per barel.

Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana mengatakan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah meningkatkan risiko inflasi global dan memperkuat sentimen penghindaran risiko di seluruh pasar keuangan. Ke depan, de-eskalasi kemungkinan akan membatasi dampak makroekonomi. 

“Namun, memburuknya situasi lebih lanjut dapat memperburuk penghindaran risiko, memperkuat volatilitas harga komoditas, meningkatkan tekanan inflasi, dan meningkatkan ketidakstabilan di pasar keuangan global,” ujar Fikri saat dikonfirmasi Kontan, Jumat (6/3/2026). 


Baca Juga: Konflik Israel-Iran Berpotensi Mendongkrak Valas Aset Safe Haven

Pada saat yang sama, Fikri melihat bahwa pasar telah secara tajam menyesuaikan ekspektasi suku bunga, memperkuat sikap "lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama". Probabilitas Fed saat ini menunjukkan kemungkinan 97,4% untuk jeda pada Maret 2026, dengan pemotongan suku bunga pertama berpotensi menjadi 3,25% – 3,50% paling mungkin terjadi pada Juli 2026 (43,7%). 

Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, analisis sensitivitas (ceteris paribus) menunjukkan risiko fiskal yang signifikan dengan sejumlah skenario. Pertama, jika yield SUN 10 tahun naik menuju 7,8%, defisit fiskal dapat melebar sekitar Rp 17,1 triliun (0,07% dari PDB). 

Kedua, jika depresiasi rupiah menjadi Rp 17.200 per dolar AS dapat menambah defisit Rp 4,0 triliun (0,02% dari PDB). Ketiga, jika sementara peningkatan harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi US$ 95 per barel dapat memperluas defisit sekitar Rp 170,0 triliun (0,71% dari PDB).

Dalam konteks ini, Fikri menilai kekhawatiran dari lembaga pemeringkat seperti Moody’s, Fitch, dan sinyal peringatan baru-baru ini dari S&P tampaknya beralasan. Dengan latar belakang ini, Fikri memperkirakan alokasi ulang portofolio global lebih lanjut. Lingkungan risk-off yang berlaku kemungkinan akan mendukung aliran selektif ke pasar obligasi global, khususnya di negara-negara yang kurang terpengaruh secara langsung oleh konflik dan pada instrumen dengan durasi lebih pendek. 

Baca Juga: Fund Manager Asing Menyerok Saham Bank Central Asia (BBCA) Saat Harga Drop

“Dari sisi ekuitas, tekanan pada IHSG diperkirakan akan terus berlanjut,” kata Fikri. 

Meskipun demikian, Fikri mengatakan komoditas terkait energi tertentu mungkin akan diuntungkan dari harga yang tinggi. Begitu pula sektor-sektor berorientasi ekspor yang berkaitan dengan sektor ekonomi yang tidak terdampak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News