KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan tren penguatannya dan bertahan di level tinggi. Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (2/9/2026) hingga pukul 16.20 WIB harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 berada di level US$ 90,16 per barel, turun 0,07%. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent melemah 0,06% harian ke posisi US$ 94,59 per barel. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menilai harga energi sejatinya dalam sepekan masih dalam tren menguat. Hal ini terutama dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan strategis dekat Selat Hormuz, yang mengancam kelancaran jalur lalu lintas tanker komoditas global.
Baca Juga: Reksadana Menguat pada Agustus, Investor Masih Perlu Waspadai Sentimen Global Meskipun demikian, pergerakan minyak tidak hanya dipengaruhi oleh tensi geopolitik semata, melainkan juga oleh ketatnya pasokan serta penurunan persediaan minyak global. Lembaga Energi Internasional (IEA) memproyeksikan pasokan minyak dunia pada 2026 turun 4,3 juta barel per hari menjadi sekitar 102 juta barel per hari. Di saat yang sama, Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan persediaan minyak global masih menyusut hingga 3,8 juta barel per hari pada kuartal III-2026. "Dalam kondisi seperti ini, pasar minyak tidak lagi hanya memperdagangkan fundamental permintaan dan pasokan. Harga juga memuat premi risiko geopolitik yang besar," kata Nanang kepada Kontan, Rabu (2/9/2026). Di sisi lain, potensi penguatan harga minyak menghadapi penahanan dari risiko penurunan konsumsi. Jika lonjakan harga energi mendorong inflasi global dan memperlambat ekonomi AS serta China, tekanan terhadap permintaan dapat membatasi reli harga minyak. Langkah susulan dari produsen OPEC+ dan kebijakan suku bunga The Fed juga menjadi variabel kunci yang terus dicermati pasar. Nanang menjelaskan bahwa jika gangguan pelayaran di Selat Hormuz berlanjut dan konflik meluas ke fasilitas produksi energi, premi risiko akan makin membesar. "Dalam situasi ekstrem, Brent dapat kembali menembus US$ 100 per barel, terlebih menyentuh level area atas US$ 110–US$ 120 per barel, dan WTI bergerak di atas US$ 100 per barel," ujar Nanang. Untuk jangka pendek, harga minyak diperkirakan masih cukup solid bertahan di atas level US$ 90 per barel. Namun, kepastian harga bertahan hingga akhir tahun sangat bergantung pada bukti adanya gangguan fisik yang nyata pada pasokan dan distribusi minyak.
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 0,06% ke 6.595 pada Rabu (2/9), ADMR, ADRO, INCO Top Losers LQ45 Memasuki akhir tahun 2026, arah pergerakan harga minyak dunia akan sangat ditentukan oleh dinamika konflik di Timur Tengah.
Dalam skenario dasar (base case), apabila konflik tidak meluas menjadi perang regional dan jalur pengiriman tetap berjalan meski berbiaya mahal, Brent diproyeksikan berada di rentang US$ 85–US$ 95 per barel dengan titik tengah US$ 90 per barel, sedangkan WTI bergerak di kisaran US$ 80–US$ 90 per barel. Namun, jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung berkepanjangan atau fasilitas energi vital terserang, skenario bullish dapat mendorong Brent melesat ke area US$ 105–US$ 120 per barel dan WTI menembus US$ 95–US$ 100 per barel. Sebaliknya, dalam skenario bearish, apabila terjadi de-eskalasi atau pemulihan keamanan pelayaran, premi risiko geopolitik akan luntur dengan cepat sehingga Brent berpeluang terkoreksi kembali menuju kisaran US$ 70–US$ 80 per barel. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News