Tensi Geopolitik Memanas, Wacana Konversi Motor Listrik Kembali Mencuat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tensi geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat - Israel dengan Iran membuat rencana konversi motor listrik kembali muncul dan meningkatkan prospek permintaan kendaraan listrik. Hal ini untuk mengantisipasi gangguan pasokan minyak mentah karena perang tersebut.    

Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas menyebut rencana pemerintah untuk mempercepat elektrifikasi kendaraan roda dua dengan membentuk gugus tugas. Gugus tugas tersebut menargetkan konversi 4 juta sampai 6 juta unit per tahun dengan subsidi Rp 5 juta – Rp 6 juta per unit (dibandingkan Rp 7 juta – Rp 10 juta dalam wacana sebelumnya), yang mencerminkan biaya teknologi yang lebih rendah. Hal itu sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. 

“Implementasinya masih belum pasti karena kebijakan ini masih baru, sementara hambatan historisnya meliputi biaya tinggi dan keterbatasan teknis,” ujar Aurelia dalam risetnya pada 11 Maret 2026. 


Baca Juga: Konflik Timur Tengah Masih Panas, Rupiah Diproyeksi Melemah pada Senin (30/3)

Jika terealisasi, Aurelia melihat hal ini dapat menguntungkan pemain suku cadang otomotif yakni PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), khususnya DRMA dengan eksposur kendaraan roda dua yang lebih tinggi.

Sementara itu, meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran keamanan bahan bakar juga dapat meningkatkan minat pada model battery electric vehicle (BEV) roda empat atau mobil listrik. “Meningkatnya ketegangan geopolitik dapat meningkatkan minat pada BEV,” kata Aurelia. 

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su menyoroti risiko naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang bisa menurunkan permintaan untuk mobil internal combustion engine (ICE). Daya beli dan suku bunga juga perlu terus dicermati untuk melihat kinerja emiten sektor otomotif. Jika inflasi diekspektasi naik, Bank Indonesia akan menahan suku bunga tinggi untuk meredamnya, dan bisa jadi headwind untuk sektor otomotif. 

“Tahun 2026 kami expect penjualan mobil akan sedikit lebih membaik dengan low to mid single digit growth,” ujar Harry Su kepada Kontan, Jumat (27/3/2026). 

Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer memperkirakan prospek sektor otomotif cenderung masih menantang. Namun Ia melihat tetap ada peluang perbaikan bertahap di tahun ini, setelah penjualan yang melemah di tahun sebelumnya. 

“Permintaan memang belum sepenuhnya pulih karena daya beli masyarakat masih selektif, terutama untuk pembelian berbasis kredit,” ucap Miftahul kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).  

Mifathul juga melihat tantangan utama sektor otomotif datang dari suku bunga yang masih relatif tinggi, ditambah dengan daya beli yang juga belum membaik. Kiwoom Sekuritas juga melihat adanya pergeseran preferensi konsumen ke arah kendaraan listrik yang membuat pemain konvensional cenderung tertekan. 

Baca Juga: Penjualan Mobil Tahun Lalu Menurun, Begini Prospek Kinerja Emiten Otomotif di 2026

Di sisi sentimen, Miftahul menilai katalis dari suku bunga yang tentunya berhubungan dengan permintaan kredit menjadi salah satu perhatian utama. Stabilitas nilai tukar, insentif pemerintah terutama untuk kendaraan Listrik (EV) juga bisa jadi sentimen yang perlu diperhatikan ke depannya. 

“Terkait suku bunga, dampaknya cukup besar karena mayoritas pembelian mobil di Indonesia berbasis pembiayaan,” kata Miftahul. 

Tercatat pada Februari 2026 volume penjualan grosir mobil alias four-wheel drive (4W) meningkat sebesar 22% secara bulanan. Sehingga volume penjualan 2 bulan pertama tahun 2026 mencapai 147.600 unit, naik 10% secara tahunan, yang mencakup 17% dari asumsi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). “Peningkatan pada Februari 2026 terutama didorong oleh merek-merek Jepang,” ujar Aurelia. 

Suzuki mencatat pertumbuhan terkuat, mencapai 9.659 unit, naik 247% secara bulanan. Kemungkinan mencerminkan pengiriman yang tertunda dari bulan-bulan sebelumnya. Volume Honda meningkat menjadi 5.385 unit, naik 34% secara bulanan, kemungkinan didukung oleh penawaran yang lebih agresif selama Indonesia International Motor Show (IIMS). Serta volume Toyota/Daihatsu juga meningkat masing-masing sebesar 12% dan 7% secara bulanan, tetapi di bawah pertumbuhan pasar. 

Adapun, volume penjualan grosir mobil two-wheel drive (2W) mencapai 587.000 unit pada Februari 2026, naik 2% secara bulanan, sehingga volume penjualan dua bulan pertama tahun 2026 mencapai 1,2 juta unit, naik 2% secara tahunan.

Terkait rekomendasi, Miftahul merekomendasikan wait and see saham PT Astra International Tbk (ASII). Harry Su merekomendasikan buy saham PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dengan target harga Rp 1.000 per saham. Sementara Aurelia memberi peringkat netral sektor otomotif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News