Tensi Geopolitik Mengerek Harga Minyak, Simak Proyeksi WTI dan Brent



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi katalis utama pergerakan harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (26/10/2026) pukul 15:55 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada di level US$ 100,70 per barel dengan koreksi harian sebesar 2,49%, sedangkan minyak mentah Brent bertengger di US$ 114,18 per barel atau turun 2,17%.

Meski mencatatkan pelemahan harian, pergerakan minyak secara tahun berjalan (YTD) masih menorehkan lonjakan tajam, yakni meroket 75,56% untuk WTI dan 88,05% untuk Brent, sebuah anomali yang mencerminkan besarnya premi risiko perang yang telah diserap oleh pasar.


Baca Juga: IHSG Melemah 1,22% ke 5.373 pada Senin (26/10/2026), WIFI, MDKA, MBMA Top Losers LQ45

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, sentimen geopolitik masih memegang kendali utama di pasar energi, di mana pergerakan harga sangat rentan terhadap dinamika pemilu di Amerika Serikat dan Israel, serta keberlanjutan intervensi militer di kawasan Timur Tengah.

Pelaku pasar saat ini terus menimbang probabilitas gangguan pasokan energi, mengingat arus ekspor minyak dari kawasan tersebut sebenarnya sudah menunjukkan pemulihan dan mulai mendekati level pra pandemi konflik.

"Skenario dasarnya adalah harga bergerak turun bertahap menuju akhir tahun jika Selat Hormuz dan arus ekspor Teluk tetap normal," jelas Sutopo kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Di sisi lain, Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai bahwa ketegangan geopolitik bukan lagi sekadar perang urat saraf di atas kertas, melainkan telah bertransformasi menjadi ancaman kinetis langsung terhadap infrastruktur energi dunia.

Tingginya minat pembeli dalam memburu barel minyak non Timur Tengah secara agresif membuat pergerakan harga sangat fluktuatif dan sensitif terhadap setiap tajuk berita (headline-driven).

Baca Juga: Rupiah Kembali Tertekan, Lonjakan Harga Minyak Berisiko Perlebar Defisit APBN

"Dengan pengerahan tiga gugus tempur kapal induk AS dan kesiapan aksi militer sepihak, pasar kini menyematkan premi risiko sebesar US$ 15 hingga US$ 20 per barel di atas harga fundamental wajarnya," ungkap Wahyu kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Lebih lanjut, reli harga energi ke level tertinggi ini turut menyalakan kembali alarm kewaspadaan terkait ancaman inflasi global.

Bertahannya harga minyak di level premium berpotensi besar memaksa bank sentral, termasuk The Fed dan Bank Indonesia (BI), untuk mempertahankan rezim suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).

Kondisi ini dinilai rentan menekan valuasi saham di sektor padat modal sekaligus melemahkan kurs domestik, sehingga investor sangat disarankan untuk menghindari aksi beli agresif di puncak harga dan mulai memasang batas proteksi modal (trailing stop) yang ketat.

Sutopo memproyeksikan rentang harga yang cukup lebar untuk akhir 2026, dengan Brent diperkirakan berfluktuasi di kisaran US$ 90 hingga US$ 115 per barel, sementara WTI berada di rentang US$ 81 hingga US$ 105 per barel.

Sutopo memberikan catatan bahwa batas bawah akan mendominasi jika kesepakatan damai tercapai dan arus logistik normal, sedangkan batas atas akan mudah tertembus bila konflik kembali meruncing.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp 18.135 Per Dolar AS Hari Ini (26/10), Terburuk Sejak Juni

Sementara itu, Wahyu meyakini arah pergerakan harga akan tetap bertahan tinggi, namun dengan rentang ayunan yang lebih lebar.

Untuk skenario normalisasi terbatas, Wahyu memproyeksikan WTI akan berada di rentang US$ 70–US$ 95 per barel dan Brent pada US$ 75–US$ 100 per barel.

Namun, rentang proyeksi tersebut bisa seketika menguji level US$ 95–US$ 120 per barel untuk WTI dan US$ 100–US$ 125 per barel untuk Brent apabila terjadi eskalasi berkelanjutan yang menyasar penutupan titik krisis jalur logistik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News