KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, menyatakan dukungannya terhadap langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam melakukan mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan gas dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada akses pelayaran di Selat Hormuz. Menurut Bambang, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena sekitar 20 persen suplai minyak global melewati kawasan tersebut. Oleh karena itu, apabila jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh negara pengimpor energi seperti Indonesia. Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk crude oil serta LPG dari Arab Saudi. Ketergantungan terhadap jalur pasokan tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar stabilitas pasokan energi domestik tetap terjaga apabila terjadi gangguan distribusi global.
Tensi Geopolitik Timur Tengah Meningkat, DPR Dorong Mitigasi untuk Jaga Pasokan Migas
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, menyatakan dukungannya terhadap langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam melakukan mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan gas dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada akses pelayaran di Selat Hormuz. Menurut Bambang, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena sekitar 20 persen suplai minyak global melewati kawasan tersebut. Oleh karena itu, apabila jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga oleh negara pengimpor energi seperti Indonesia. Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk crude oil serta LPG dari Arab Saudi. Ketergantungan terhadap jalur pasokan tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar stabilitas pasokan energi domestik tetap terjaga apabila terjadi gangguan distribusi global.