KONTAN.CO.ID – MADINAH. Langkahnya tak lagi setegap dulu. Penglihatannya pun telah lama hilang. Namun, keterbatasan itu tak pernah meredupkan tekad Sarjo Utomo (71) untuk menunaikan ibadah haji. Warga Wates, Kulon Progo, DI Yogyakarta ini akhirnya berangkat ke Tanah Suci pada 2026, jauh lebih cepat dari jadwal semula.
Ia sebenarnya baru dijadwalkan berangkat pada 2041, setelah mendaftar sejak 2018.
Baca Juga: Standar SNI Vape Dinilai Jadi Kunci Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Namun, takdir membawanya lebih awal, menyusul anak keduanya, Sri Murti, yang terlebih dahulu berangkat dan kemudian menariknya sebagai mahram. “Tahun 2018 saya daftar, tapi dipanggil 2026. Mumpung masih bisa jalan,” tutur Sarjo, Kamis (24/4/2026). Di balik keberangkatannya, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, pengorbanan, dan keyakinan yang tak pernah goyah. Sejak muda, Sarjo memulai hidup dari bawah sebagai pembantu pedagang sapi. Ia mengurus ternak, membersihkan kandang, hingga mengantar sapi ke pasar. Dari pekerjaan sederhana itu, ia belajar banyak—mulai dari cara berdagang, menaksir harga, hingga membangun relasi. Berbekal pengalaman tersebut, Sarjo memberanikan diri untuk berdiri sendiri. Usahanya berkembang perlahan.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Kuartal II Tembus 5,7% Keuntungan yang diperoleh ia kumpulkan dan diubah menjadi aset, mulai dari sebidang tanah hingga bertambah seiring waktu. Dari hasil kerja keras itu pula, ia membesarkan ketiga anaknya. Anak pertamanya kini berkarier sebagai akademisi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Anak kedua menjadi dokter hewan, sementara anak bungsunya memilih menjadi ibu rumah tangga. Namun, perjalanan hidup Sarjo tidak selalu mulus. Di usia 37 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan penglihatan. Dokter menyatakan kondisinya tidak dapat disembuhkan. Sejak saat itu, ia berhenti berdagang dan beralih mengelola sawah dengan bantuan orang lain.
Baca Juga: Prabowo Genjot Hilirisasi di 13 Wilayah, Tak Hanya Energi dan Mineral Di tengah keterbatasan tersebut, tekadnya untuk berhaji justru semakin kuat. Ia bahkan menjual tanah pekarangan yang menjadi salah satu sumber penghidupannya demi mendaftar haji untuk dirinya, istri, dan anaknya. Dengan nada berkelakar, ia menyebut perjalanannya sebagai “haji wahyu karena sawahnya payu (laku).” Bagi Sarjo, keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Saat sakit mata datang, ia dihadapkan pada pilihan: menggunakan uang untuk berobat atau tetap berpegang pada niat berhaji. Ia memilih yang kedua. “Mata saya diperkirakan sudah tidak bisa sembuh. Jadi saya ingin ibadah. Bekal saat dipanggil Allah itu kan ibadah. Kalau saya haji, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya,” ujarnya. Baginya, haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bekal untuk kehidupan akhirat. Ia berharap dapat meraih haji mabrur dan mampu menjaga kemabrurannya hingga akhir hayat. “Yang saya inginkan bisa menjadi haji mabrur, dan menjaganya sampai saya dipanggil Allah,” katanya.
Baca Juga: Purbaya Siapkan Insentif Pembiayaan Berbunga Rendah untuk Industri Padat Karya Kebahagiaan Sarjo belum sepenuhnya lengkap. Sang istri, yang juga telah didaftarkan untuk berhaji, lebih dulu meninggal dunia sekitar dua setengah tahun lalu sebelum sempat berangkat.
Namun, keluarga telah menyiapkan jalan lain. Anak pertamanya yang telah berhaji berencana membadalkan ibadah haji untuk sang ibu. Di tengah segala keterbatasan, Sarjo tetap aktif di lingkungan. Ia masih menghadiri rapat-rapat di pedukuhan dan berusaha menjadi teladan bagi generasi muda. “Supaya anak-anak muda mau ikut terlibat, mau kerja, dan peduli lingkungan. Kalau yang tua saja datang, masa yang muda tidak,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News